Minggu, 03 Juni 2012

Bedanya orang galau sama orang bijak

Galau menjadi kata yang cukup populer di kalangan anak muda saat ini. Padahal kata itu tak ubahnya seperti bimbang, gundah gulanah, stress, cemas, ataupun beberapa kata yang identik.

Tapi tau gak temen - temen. Rupanya orang galau sama orang bijak tuh bedanya tipis. Apa coba bedanya ? Oke bakal saya bahas.

Orang galau sama orang bijak bedanya cuma dari kata tanya yang dia tanya sama dirinya sendiri. Orang galau selalu bertanya pada dirinya pakai kata tanya kenapa, jika ia mendapati hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan orang bijak selalu bertanya sama dirinya sendiri pakai kata tanya Apa, ketika ia mendapat hal atau masalah yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Jadi ketika orang galau mengalami hal yang tidak sesuai dengan yang ia inginkan ia akan bertanya pada dirinya sendiri dengan kalimat, Kenapa masalah ini menimpa saya ? Kenapa semua ini terjadi pada saya ? Kenapa semua ini tak seperti apa yang saya inginkan? Tapi beda halnya dengan orang bijak. Walaupun masalahnya sama atau bahkan lebih besar ia akan bertanya pada dirinya sendiri dengan kalimat, Apa makna yang bisa saya ambil ? Apa hal positif dari kejadian ini ? Apa yang bisa saya lakukan supaya di lain waktu tidak seperti ini lagi ?


Contoh misalkan ada seorang yang ke masjid untuk shalat Jum'at. Tapi ternyata setelah shalat jum'at selesai sepatunya hilang. Orang galau pasti akan bertanya pada dirinya sendiri kenapa sepatu saya hilang ? Kenapa kok sepatu saya yang hilang? Tapi orang bijak akan berkata, Apa maknanya kalo sepatu saya hilang ? Apa hal positif yang bisa saya petik kalo sepatu saya hilang ? Apa yang bisa saya lakukan supaya next time sepatu saya gak hilang ?

Dalam kasus ini jika kita sebagai orang galau bertanya pada diri kita sendiri tentang pertanyaan menggunakan kata kenapa, maka kita nggak akan temuin jawabannya. Tapi lain halnya dengan orang bijak. Jika ia bertanya menggunakan kata apa maka ia akan temukan jawabannya seiring dengan pikiran positifnya. Misalnya dalam kasus tadi si orang bijak bertanya pada dirinya sendiri Apa maknanya kalo sepatu saya hilang ? Oh mungkin besok saya bakal punya sepatu baru (soalnya belum pernah ada orang yang kehilangan sepatu terus ga punya sepatu seumur hidup), Apa hal positif yang bisa saya petik dari kejadian ini ? Oh mungkin di harta saya ada sebagian hak orang lain. Apa yang bisa saya lakukan supaya hal ini tidak terjadi lagi? Mungkin saya lain kali harus menitipkan sepatu ke petugas masjid.

Nah jadi cara untuk mengatasi galau adalah berusaha tuk jadi orang bijak. Karena galau sama bijak tuh bedanya tipis cuma dari kata tanya yang kita tanya sama diri kita sendiri. Jadi Kita tinggal ubah saja kata tanyanya dari kata Kenapa Jadi Apa.


Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon