Minggu, 22 Juli 2012

Mendung Kian Memudar


Oleh : Binti Kholifah

 Pagi ini, suara kendaraan bermotor seakan membangunkan Kian dari mimpinya. Ditambah lagi suara ayam dari rumah sebelah. Kian bergegas bangun menuju kamar mandi. Perlahan air yang ada di kamar mandi itu membasahi tubuh Kian. Diambilnya handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Seragampun telah melengkapi tubuh Kian. Ditambah seutas dasi dan sabuk yang semakin mempercantiknya. Satu hal yang tak dilupakan Kian sebelum berangkat sekolah, yaitu sarapan. Belum lengkap rasanya bila Kian belum sarapan. Sepeda kayuh Kian telah menunggunya di halaman rumahnya sejak tadi. Dikayuhnya sepedanya itu. Hingga hari ini tibalah ia di sekolah dengan selamat. Dari belakang terdengar suara hentakan kaki.

“Kian!”

Kian pun serentak menoleh ke belakang. Ternyata suara hentakan kaki itu adalah suara hentakan dari kaki kekasih Kian. Digandengnya tangan Kian. Mereka menuju sebuah tempat terpencil di sekolah. Awalnya Kian tak mau. Karena dia tahu bahwa ini adalah saatnya masuk untuk pelajaran. Kian sempat takut. Karena dia tak pernah membolos sebelumnya. Hati kecilnya masih ingin mengajaknya ke kelas.

“Dimas, ini tuh udah waktunya masuk. Kita ngapain kesini?”
“Udahlah sayang, sekali-kali gak apa-apakan buat bolos? Kita nikmatin aja saat ini.”

Akhirnya Kianpun menuruti kemauan sang kekasih. Maklumlah, ini adalah kali pertama Kian berpacaran. Mereka berdua hanya mengobrol, makan sambil berpegangan tangan. Hingga tibalah saatnya istirahat. Mereka harus pergi sebelum ada yang mengetahui perbuatan mereka. Namun Kian masih takut untuk masuk ke kelasnya sendiri. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar hari ini akan baik-baik saja.

“Ya Allah, Kian gak akan ngulangi lagi seperti yang tadi!”

            Hari demi hari telah berlalu. Kian semakin dekat saja dengan sang kekasih. Bukan hanya itu. Kini Kian semakin menuruti kemauan sang kekasih. Mereka sering jalan berdua. Hingga tibalah suatu hari, ketika Kian keluar dengan sang kekasih. Kian ingat bahwa besuk ada ulangan kimia. Namun Kian seperti tak peduli dengan itu semua. Masih saja dia asik mengobrol dengan kekasihnya itu. Meski hati kecilnya sadar, kini ia telah berubah menjadi sosok yang tak seperti Kian pintar nan polos seperti dulu lagi. Hingga tibalah suatu malam. Ya, hari ini Kian pulang malam. Sebelumnya tak pernah seperti ini.

“Dimas, ayo kita pulang! Ini udah malem banget. Aku baru belajar dikit buat ulangan Kimia besuk.”
“Hahaha. Santai ajalah. Kan masih bisa belajar besuk pagi.”
“Enggak mau! Ayo kita pulang.”

Kian terus merengek kepada sang kekasih. Hingga akhirnya Dimaspun menuruti kemauan Kian untuk pulang kerumah.

“Makasih ya Dimas! Sampai ketemu besuk!”
Dimaspun tersenyum dan segera berlalu dari rumah Kian. Perlahan kaki Kian mengendap-endap masuk ke rumah sederhananya yang indah. Lampu-lampu saat itu telah redup. Hanya beberapa dari tetangga Kian saja yang masih menyalakan lampu teras rumah. Kianpun segera masuk rumah.

            Sinar matahari masih setia menemani pagi Kian hari ini. Kian merasa ada yang tak beres dengannya hari ini. Namun dia kembali membangkitkan semangatnya pagi ini. Sesekali Kian kembali seperti yang dulu. Namun hanya sekejap saja. Tak lupa seperti biasanya, Kian menyantap sepiring nasi berlauk sambal goreng kentang yang mampu mengembalikan energinya yang hilang sewaktu tidur. Kini mentari semakin terik. Kianpun harus segera berangkat ke sekolah tercintanya.Oh tidak. Hari ini Kian terlambat. Ini adalah kali pertama Kian terlambat. Kian berusaha meminta  agar dibebaskannya dari hukuman. Dan akhirnya Kianpun benar-benar bebas dari hukuman. Kaki kecil kian berlari menuju kelasnya. Dibukanya pintu kelas. Kian masih bisa menghela nafas panjang.

“Untunglah bu guru belum datang.”

Kianpun beranjak duduk di bangku tersayangnya. Dibukanya buku kimia yang amat tebal. Sesekali kian menguap. Masih mengantuk karena semalam tidur larut malam. Namun dilawannya rasa itu. Hingga sebuah bayangan datang dari pintu kelas. Yah, guru kimia Kian telah datang. Langkah demi langkah guru itu menambah keras denyut nadi Kian.

“Anak-anak, siapkan selembar kertas!”

Kianpun semakin pasrah. Namun hatinya tetap santai.

“Ah kimia. Paling soalnya juga kaya gitu-gitu doang.”

Itulah kalimat yang keluar dari mulut Kian untuk kali pertama. Kalimat yang menyepelekan mata pelajaran kimia. Kianpun segera mengangkat bolpoinnya. Pelan-pelan mengerjakan soal yang diberikan guru.

            Terik mentari semakin menengah. Menambah kelelahan semua orang. Kian beranjak dari kelasnya menuju kantin. Dari belakang, seseorang menepuk pundak Kian.

“Yofi?”
Yofipun duduk disebelah Kian.
“Kian, nanti kita belajar bersama lagi ya! Dua minggu terakhir inikan kita sudah tidak belajar bersama lagi.”
“belajar bersama?”

Kian hanya menjawab seperti itu. Yofipun semakin bingung mendengar jawaban Kian yang dtambah tawanya yang layaknya menyepelekan.

“Kian, kamu kenapa? Kitakan biasanya juga belajar bersama.”
Kian hanya tersenyum pada Yofi. Hingga tibalah Dimas di hadapan mereka berdua.
“Maaf ya Yofi! Tapi aku udah ada janji tuh sama Dimas.”

Hati Yofipun semakin kacau. Orang yang selama ini dekat dengannya, kini telah semakin menjauh dari hidupnya. Yofipun perlahan mengelus dadanya. Namun dalam hatinya terus bertekad untuk mengembalikan Kian seperti dahulu.

            Mentari selalu berganti dengan rembulan malam setiap harinya. Hari ini Kian duduk di bangku tersayangnya. Dia tersenyum ketika guru sedang membagikan nilai ulangan MIT semester genap.

“Tak perlu khawatir. Nilaku akan baik-baik saja.”
Begitu mudahnya Kian berkata. Hingga kinilah saatnya.
“Kiana Aryani!”

Ya, nama Kian dipanggil. Dengan percaya diri Kian maju mengambil rapor sisipannya. Diambilnya rapor itu dari tangan wali kelasnya dimana beliau adalah guru kimianya.

“selamat ya Kian!”
Ucapan guru itu semakin meyakinkan Kian akan nilainya. Dengan tersenyum gembira, dibukanya rapor itu.
“ha?”

Spontanitas lidah Kian berucap “ha?”. Kian memegang dadanya dan langsung duduk di kursinya seketika. Bagaimana tidak. Nilai tertinggi di rapor kian adalah delapan puluh saja. Itupun hanya untuk tiga mata pelajaran. Nilai yang lain hanyalah dibawah tujuh puluh lima. Kian melemah. Dia hanya bisa diam, merenung sambil mendengarkan ceramah dari sang guru.

            Kini waktu beranjak menuju pertengahan hari. Kian tak langsung pulang siang ini. Kian masih duduk di kantin sekolah. Seberkas bayangan muncul dari belakang Kian. Dia masih menebak bahwa itu Dimas. Ya, memang benar itu adalah Dimas. Digandengnya tangan itu. Namun reaksinya, Dimas melepaskan gandengan itu.

“Kian! Kita putus.”
Kian semakin terkaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dimas itu. Kianpun menanyakan beribu alasan atas sebab apa Dimas berkata seperti itu.

“tapi kenapa?”
“aku sudah bosan denganmu.”

Jawaban yang begitu simpel. Kian tertunduk lesu. Baginya hari ini adalah hari yang paling tidak mengenakkan. Dimas berlalu begitu saja dari hadapan Kian yang menangis tertunduk. Kian hanya diam beberapa waktu di kantin sambil melamun tak jelas. Lagi-lagi seberkas bayangan itu datang. Kian masih mengira bahwa itu Dimas yang ingin memintanya kembali.

“Kian!”
“Aku tahu kamu pasti kembali. Dan aku akan menerimamu kem....”
Kata-kata Kian terputus ketika mengetahui yang berdiri di belakangnya adalah Yofi.
“Ngapain kamu di sini? Kamu itu bikin aku semakin berharap.”

Saat itu juga Yofi duduk di samping Kian. Dipegangnya tangan Kian yang dingin dan basah. Tangan Yofipun tak segan-segan mengusap air mata Kian.

“Berceritalah padaku. Kalau aku bisa, insyaallah aku akan membantumu.”
“Nggak Yofi! Kamu gak akan bisa bantu aku. Ini semua salah aku. Maafkan aku, Yofi.”

            Langit cerah kini berganti gelap. Senja telah datang di hadapan Kian. Kian duduk termenung di teras rumah. Kian hanya mamandang langit yang gelap sambil memegang selembar map berisikan rapor yang dibagikan di sekolah tadi. Suara sepeda motor terdengar dari belakang Kian. Rasanya Kian ingin menengok suara itu. Namun matanya tak bisa beralih dari pandangannya saat itu juga. Sebuah tangan merebut map yang dipegang Kian.

“Apaan sih? Ha? Yofi?”
Kian sedikit kesal dengan Yofi. Kian malu bila Yofi mengetahui nilai rapornya. Kian berusaha merebut map itu. Namun Yofi terlanjur melihtnya. Kian langsung duduk kembali memegang kepalanya.

“Yof. Aku gak sepintar yang dulu lagi. Bahkan banyak materi yang kulupakan karena aku jarang belajar. Padahal sebentar lagi akan ada ulangan kenaikan kelas. Aku menyesal telah melakukan itu. Berpacaran dengan orang yang salah.”

Itulah  ucapan yang keluar dari mulut Kian. Yofipun menghampiri Kian. Dia memegang pundak Kian.

“Itupun telah berlalu. Kamu harus bangkit untuk membenahi diri yang salah. Memulainya dari awal. Bagaimana kalau kita belajar bersama lagi. Aku yang akan membantumu mengejar materi yang tertinggal.”
Kian memandang Yofi dengan sedikit ekspresi kaget. Yofipun membalasnya dengan senyum manisnya. Kianpun tersenyum jua. Kian memegang dan menurunkan tangan Yofi yang ada di pundaknya.

“Kamu masih sama seperti yang dulu. Teman terbaikku.”

Merekapun segera masuk ke dalam rumah Kian. Saling bergandengan dengan senyum yang khas dari diri mereka.

            Satu per satu buku keluar dari tas Kian. Satu per satu meteripun mulai diajarkan oleh Yofi pada Kian. Kian hanya mendengarkan Yofi, melihat isi buku. Semua dilakukannya dengan serius. Sesekali, Kian bertanya materi yang belum paham. Tanpa terasa, mereka telah belajar lama. Haripun semakin gelap. Yofi membantu Kian membereskan buku-buku yang berserakan. Mereka berdiri bersama. Yofi menjabat tangan lembut Kian.

“Aku pulang dulu ya!”

Kalimat pamit Yofi pada Kian. Kianpun hanya tersenyum. Dihantarnya Yofi menuju pintu depan rumah. Yofi bergegas memakai helm hitamnya dan perlahan duduk di motornya.

“Yofi!”
Yofi menoleh ke belakang begitu Kian memanggil namanya.
“Makasih buat materi hari ini. Besuk kamu mau mengajariku materi selanjutnya lagikan?”

Yofi hanya membalas ucapan terimakasih Kian dengan senyum manisnya. Ya, Yofi memang hobi tersenyum. Perlahan motor Yofi berlalu dari rumah Kian. Kianpun tersenyum bahagia ketika masuk ke dalam. Menutup pintupun sambil tersenyum. Rembulan malampun ikut menyapa Kian dengan sinar terangnya berteman bintang. Perlahan Kian memejamkan mata indahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

            Hari demi hari telah dilalui Kian. Pagi ini sepeda kayuh Kian masih menemaninya bersekolah. Berteman sinar mentari pagi yang menyehatkan. Tak lupa sekotak nasi ia bawa. Dia kayuh sepedanya dengan santai menuju sekolah. Dari belakang terdengar suara hentakan kaki.

“Kian!”

Yofilah yang memanggil Kian. Mereka berjalan bersama menuju ke kelas mereka masing-masing. Hari ini adalah hari pertama dilaksanakannya ulangan kenaikan kelas. Hati Kian berdebar kencang. Kian takut dia tidak bisa mengerjakan soal-soal dengan benar yang akan menyebabkannya tidak  naik kelas. Namun lagi-lagi Yofi yang membangkitkan semangatnya.

“Yofi!”
Yofipun membalikkan kepalanya ke belakang.
“Semangat!”

Senyum manis Yofi lagi-lagi terlihat oleh Kian. Dengan penuh semangat Kian mengerjakan semua soal yang ada di lembaran. Satu persatu soal ditaklukkan Kian.

            Waktu terus berjalan. Berjalan pula kehidupan Kian. Kaki Kian melangkah ke kantin lagi. Di hadapannya telah duduk seorang Yofi. Kian memanggil nama Yofi. Dijabatnya tangan Yofi.

“Makasih ya, Yofi!”
“Buat?”

Yofi malah balik tanya pada Kian. Kianpun menunjukkan rapornya pada Yofi. Lagi-lagi Yofi tersenyum manis. Lebih manis dari biasanya. Jelas saja. Kian naik kelas dan mendapat peringkat 1 di kelasnya. Kianpun tak hentinya berucap terimakasih pada Yofi. Kian duduk di samping Yofi. Perlahan tangan Yofi memegang tangan Kian.

“Kian!”
“Hmm!”
“Kamu disukai seseorang. Oh, bukan suka. Tapi rasa tulus.”
“Siapa?”
“Yang ada di samping kamu.”
Kian tergaget. Kianpun memandang Yofi begitu serius dengan senyum cantiknya.
“Aku juga.”
Kian menjawab sedemikian. Yofipun segera memandangi Kian dengan senyumnya.
“Jadi... kita pacaran?”
Kianpun bertanya pada Yofi atas rasanya.
“Aku nggak mau kita pacaran.”
“Lalu?”
“aku Cuma ingin kamu jadi pelengkap hidupku. Aku gak mau dengan nyebut kita ini pacaran, kita jadi nggak konsen dalam pelajaran. Gimana?”
“Hmm. Aku amat bahagia.”
Selesai

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon