Belajar dari Mbak Ninek


 By : Fuatuttaqwiyah El- Adiba 
 
Yogya. Kota itu mengingatkanku pada seseorang yang telah mengajariku banyak hal. Mbah Ninek biasa kumemanggilnya. Nama aslinya mbah Suro. Namun orang- orang biasa memanggilnya dengan sebutan itu. Perawakannya kecil dan kurus. Tidak pernah marah dan selalu ramah pada siapa saja. Senyum selalu tersungging di wajah tuanya. Sikap sabarnya begitu memukauku. 

     Aku mengenalnya sejak masih kanak- kanak. Mbah Ninek adalah salah satu santri di pesantren Al- Fatah milik kakek dan nenekku. Usianya yang sudah sepuh tidak menghalangi keinginannya untuk terus belajar agama. Bersama beberapa nenek- nenek lain seusianya, setiap Maghrib beliau datang ke pesantren. Belajar sholat, membaca Al- Qur”an dan Kitab- kitab klasik. Meskipun beliau buta huruf Al- Qur”an, namun semangatnya melebihiku. 

    Berbekal obor, beliau menembus kegelapan malam.Kadang sendiri, terkadang dengan tiga orang temannya. Beliau tidak pernah mau diantar anaknya. Tipikal nenek yang tidak mau merepoti orang lain. Apalagi dikasihani. Giginya yang sudah banyak tanggal pun tidak mengurangi keinginannya untuk selalu mengucap ayat- ayat-Nya. Walaupun buta huruf, mbah Ninek memilih menghafal beberapa surat dalam Al- Qur’an. Setiap hari satu ayat. Meskipun terbata- bata, namun hafalan beliau sangat kuat. Tekadnya untuk mengakrabi firman Tuhan membuatnya terus mengaji. Hujan dan mendung tidak pernah menyurutkan langkahnya. Apalagi kesuraman malam.

    Mbah Ninek adalah seorang petani sederhana. Selama ini anaknya yang menggarap sawahnya. Beliau tidak pernah menjual hasil panennya. Padi itu disimpan di gudang rumahnya. Digunakan seperlunya untuk makan sehari- hari. 

   Wajah teduhnya membuatku kangen. Nasehatnya selalu ku nanti. Ia sudah kuanggap seperti nenekku sendiri. Ada satu peristiwa yang membuatku makin sayang padanya. Tepatnya saat aku mengalami kecelakaan di akhir tahun 2003. Begitu mendengar aku terluka sangat parah, beliau langsung datang ke rumahku. Dijenguknya diriku yang terkapar tak berdaya. Melihat lukaku, mata tua itu pun berlinang. Aku makin tak tega melihatnya. Sebuah doa keluar dari bibirnya. Aku hanya mampu mengamininya.

   Sejak saat itu aku makin sayang padanya. Silaturahim itu kujaga hingga sekarang. Tiap pulang kampung  kusempatkan mengunjunginya. Berharap doa untuk kesuksesanku. 

  Mbah Ninek, tetaplah di hatiku. Beliau mengajariku bagaimana akrab dengan ayat- Nya. Bagaimana menghafal ayat- Nya tanpa membaca mushaf. Ketekunannya sangat kukagumi. Beliau juga tidak sungkan memintaku menyimak hafalannya. Hingga kini, hafalannya masih terjaga. Tubuh tuanya pun masih sehat. Pikiran dan jiwanya pun cerah. Pancaran bahagia selalu tergambar di wajahnya. 

    Mbah Ninek selalu kujadikan contoh ketika siswaku mulai terserang penyakit malas. Cerita tentang beliau bisa mengurangi rasa malas siswaku. Ya, belajar memang tidak pernah ada kata usai. Itu juga yang dilakukan mbah Ninek. Mengamalkan hadis Nabi belajar dari ayunan hingga ke liang lahat.
Belajar dari Mbak Ninek Belajar dari Mbak Ninek Reviewed by Rival Ardiles on 10.30.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.