Rabu, 15 Agustus 2012

Perjalanan Sehelai Hijabku


By : Zahra Qomara

            Membicarakan hijab ternyata begitu rumit. Walaupun sebenarnya hal itu adalah hal mudah, sederhana dan ringan dilakukan apabila insan yang menjalaninya ikhlas dan lingkungan di sekelilingnya mendukung. Tetapi ternyata pembicaraan mengenai hijab belum berakhir hingga kini. Hijab masih menuai kontroversi di mata masyarakat umum, bahkan di mata dunia. Meskipun semakin banyak muslimah yang sadar dan menutup tubuhnya dengan hijab. Tetapi pertentangan antara hak dan batil tentu saja masih berlaku hingga akhir jaman, karena itu adalah sunatullah.

            Aku jadi teringat ketika awal aku berhijab dulu. Ketika itu ghiroh-ku sedang bergolak. Semakin lama aku mempelajari keislaman semakin kuat keinginanku menutup tubuhku dengan hijab. Pergolakan batin yang aku rasakan mencari jalan keluarnya. Sekitar tahun 1988-1989, jilbab–yang maksudnya dalam hal ini adalah hijab, sedang ‘naik daun’. Hampir sebagian besar siswi-siswi sekolah berkeinginan mengenakan hijab karena kesadaran menutup untuk aurat. 

Tetapi seluruh sekolah-sekolah negeri melarang semua siswinya untuk berhijab. Tentu saja mereka berpandangan bahwa hijab (menutup kepala dengan jilbab, berpakaian menutup aurat selayaknya seorang muslimah) adalah melanggar peraturan sekolah. Peraturan itu menyebutkan, tanpa penutup kepala, kemeja lengan pendek dan rok sekolah yang hanya selutut atau sedikit di bawah lutut.

            Desas-desus mengenai pelarangan hijab di sekolah semakin santer. Tetapi keinginanku untuk menunaikan kewajibanku sebagai muslimah ternyata tidak bisa ditawar-tawar lagi. Walaupun kami–beberapa siswi yang berkeinginan berhijab– sudah membuat strategi agar kami berhijab pada waktu yang berlainan, supaya tidak menjadi sorotan di sekolah. Maka aku bertekad untuk berhijab pada awal kelas III SMA.

            Keperluan terhadap pakaian seragam berlengan panjang dan jilbab yang harus dikenakan menjadi hal utama yang harus dimiliki. Dan ini menjadi masalah. Karena aku sudah kelas III,  sebentar lagi aku akan lulus sekolah. Keperluan akan biaya juga menjadi kendala saat itu. Aku tidak sampai hati untuk menyusahkan kedua orangtuaku. 

Maka dengan pengertian beberapa kakak kelas dulu, aku mendapatkan pakaian seragam sekolah berlengan panjang. Walaupun tidak baru,  tidak masalah. Sementara untuk kerudung aku sudah punya. Saat itu aku sudah punya beberapa baju muslim dan juga jilbab. Apalagi Mamaku juga berkerudung. Lalu bagaimana dengan rok? Sudah lazim saat itu, mereka tetap mengenakan rok sekolah dan menutupi kaki dengan mengenakan kaos kaki panjang. Aku membeli kaos kaki setelah mengumpulkan uang jajanku selama hampir seminggu. Kemudian aku mengutarakan maksudku pada kedua orangtuaku.

            “Ma, aku mau berjilbab,” kataku ketika hari-hari menjelang tahun ajaran baru kelas III semakin dekat.

            “Jilbab? Bukannya sekarang dilarang di sekolah-sekolah?” tanya Mama dengan wajah penuh kekhawatiran. Mama sudah mendengar tentang jilbab yang lagi santer itu dari media massa dan juga berita di TV beberapa bulan yang lalu.

            “Iya, sih. Tapi ini kan masih pake seragam. Cuma ditambah jilbab dan kaos kaki panjang,” tuturku berhati-hati sambil mencoba merayu Mama.

            “Jangan sekarang, deh. Tunggu sebentar lagi. Bukankah kelas III cuma sebentar saja? Nanti kamu kuliah, pakailah jilbab!” seru Mama lagi.

            “Tapi kewajiban tetaplah kewajiban, Ma. Hal ini nggak bisa ditunggu-tunggu lagi. Nanti kalau kiamat, gimana? Kalau aku keburu mati, gimana?” Aku kembali bersikeras dengan keinginanku. Hatiku sudah bulat. Aku mau menutup aurat.

            “Toh, kelas III hanya sebentar saja. Nanti kalau kamu dikeluarkan dari sekolah gimana? Mau cari sekolah di mana? Harus bayar berapa? Ujian kamu bagaimana? Ah, kamu ini kok cari masalah saja, sih? Jadi orang Islam, tuh biasa saja. Jangan terlalu ekstrim!” nasihat Mama panjang lebar. Dahinya mulai berkerut. Mungkin beliau khawatir dengan keadaanku saat itu.

            Masya Allah, Mama. Masa orang mau ber-Islam secara kaffah, malah dibilang ekstrim! seruku dalam hati. Aku tidak memperpanjang pembicaraanku dengan Mama. Aku merasakan kerisauan hati Mama. Tapi bagaimana, kalau begini? Aku belum mendapat restu Mama. Perasaaanku bercampur aduk tidak karuan. Ya, Allah kuatkan hati dan langkahku ini…

            Maka pada kesempatan yang lain aku berbicara dengan Papa.

            “Pa, kalau aku memakai jilbab, gimana?” tanyaku hati-hati. Aku melihat wajah Papa. Beliau agak terkejut dengan pertanyaanku.

            “Jilbab? Pakailah! Kenapa, memangnya? Kan menutup aurat itu menjadi kewajiban bagi mereka yang sudah baligh. Di Malaysia sudah banyak anak-anak sekolah yang memakai jilbab,” jawab Papa. Saat itu Papa memang ada bisnis di Malaysia. Sehingga Papa memang melihat sendiri perkembangan jilbab di negeri jiran itu. 

            Papa termasuk orangtua yang keras pada anak. Keras dalam arti kata berdisiplin. Apalagi Papa memang orang Minang, yang terkenal kuat agamanya. Papalah yang mengajariku mengaji dari Alif Ba Ta (saat itu belum ada Metode Iqro, seperti sekarang ini). Papa juga yang mengajari kami–aku dan adik-adik–menghafal surat-surat pendek, Juz Amma, mengajari kami sholat dan bacaannya. Walaupun demikian, Papa tidak pernah menyuruh ataupun menyarankan aku untuk mengenakan hijab. Mungkin memang saat itu berhijab belum menjadi suatu kelaziman. 

            Mama masih mempertahankan pendapatnya. Pendapatnya itu memang tidak salah. Papa juga tidak salah. Aku? Akupun merasa tidak bersalah. Jadi siapa yang harus dipersalahkan? Saat itu hatiku begitu pedih dan miris. Kenapa  negara yang mayoritas penduduknya muslim ini justru melarang jilbab? Di mana para pemimpin muslim saat itu?

***

            Hari pertama sekolah di kelas III SMA.
            Aku mempersiapkan diri serapi-rapinya. Aku sudah biasa mengenakan jilbab karena aku aktif di Rohis (Kerohanian Islam) dan selalu berjilbab rapi setiap hari Minggu untuk mengikuti kajian itu di musholla sekolah. Maka tidak perlu waktu lama, aku sudah siap ke sekolah. Aku pamit pada kedua orangtuaku.

            “Pa, Ma, pamit, ya….” suaraku seperti mengambang di udara. Suasana di rumah agak tegang gara-gara aku berjilbab ke sekolah pagi itu.

            “Kamu masih bersikeras juga,” suara Ibuku masih penuh kekhawatiran dengan keputusanku.

            “Sudah, pergi saja dengan Bismillah. Kalau nanti kamu di panggil guru. Bilang saja negara kita ini negara yang berdasarkan Pancasila. Sila Pertama kan kamu tahu, Ketuhanan yang Maha Esa. Jangan lupa kita juga ada Undang-Undang Dasar 45. Di Pasal 29 sudah jelas. Setiap warga negara berhak menjalankan peribadatannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing!” suara Papa malah memberiku semangat yang semakin menyalakan nyaliku. 

            “Assalamu’alaikum…,” salamku hati-hati.
            Aku meninggalkan rumah dengan do’a panjang. Inilah jalanku ya, Allah. Semoga aku kuat melaluinya. Aku temui air mata yang meleleh di pipiku. Masih di rumah saja aku sudah mendapat perbedaan pendapat yang dari kedua orangtuaku. Aku pasrah. Sampai di sekolah aku mendapat pelukan dari teman-teman puteri RohIs-ku. Kami saling tersenyum dan menyusut mata. Hari ini giliranku. Mungkin bulan depan, ada teman puteriku yang lain yang akan menyusulku menutup auratnya. 

***

Beberapa hari kemudian menjelang siang, kami semua yang sudah mengenakan hijab (kami berjilbab, seragam lengan panjang dan berkaos kaki panjang) dipanggil oleh Ibu Kepala Sekolah. Lalu dimulailah babak-babak kepedihan itu. Mungkin saat itu beberapa teman menertawai kami, mungkin saat itu sebagian guru-guru menyesalkan kami, mengapa semangat kami terlalu berkobar, sehingga akhirnya kami seperti orang-orang terbuang dan pesalah undang-undang.

            “Saya juga sudah naik haji. Tapi saya juga tidak perlu pakai jilbab!” Bentakan Ibu Kepala Sekolah kadang-kadang masih terdengar hingga kini di telingaku. 

            “Kalian sudah melanggar peraturan tata-tertib sekolah dalam mengenakan seragam sekolah! Kan sudah jelas bagaimana seharusnya kalian semua berpakaian seragam? Di kaca jendela TU juga masih terpasang gambar dan peraturan itu,” papar beliau panjang lebar.

            “Kalau kalian tidak juga melaksanakan peraturan di sekolah ini. Lebih baik kalian semua mencari sekolah lain yang bisa menerima kalian dengan berpakaian seperti ini!”

Wajah-wajah kami tertunduk. Lidah kami kelu. Lalu kami saling berpandangan. Tapi ternyata ghiroh kami semakin melambung dan berkobar-kobar. Saat itu kami memang tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Hanya Allah-lah yang ada di belakang kami. Suara Ibu Kepala Sekolah hanya masuk telinga kanan, mampir di hati sebentar dan kemudian keluar lagi dari telinga kiri. Ada sesuatu yang bergolak-golak di dada kami. Ya, Allah…  

            Beberapa hari kemudian kami sempat dikeluarkan dari kelas, tidak boleh belajar. Kami hanya melihat guru yang mengajar dari balik jendela kelas. Terus terang hatiku, juga seorang teman lain (satu kelas) sangat tergores. Hanya Allah-lah yang tahu bagaimana sakitnya. Bukan hanya kelasku. Teman-teman di kelas-kelas lain juga mengalami hal yang sama. 

Ternyata bukan hanya di sekolahku, tapi juga di sekolah-sekolah lain. Keributan, ketidakpuasan dan perdebatan mengenai hijab saat itu menjadi semakin santer di seluruh kota-kota besar di Indonesia seperti, di Jakarta, Bogor dan Bandung. Tangis dan air mata sudah menjadi kebiasaan kami saat itu. Kakak-kakak kelas yang saat itu sudah menjadi mahasiswa, selalu menguatkan hati kami. Beberapa dari mereka juga menyampaikan bahwa sudah ada usaha dari beberapa lembaga dakwah untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat juga lulus ujian dari sekolah itu. Walaupun kami masih harus membuka hijab ketika mengambil foto untuk ijazah. Semoga Allah mengampuni kami.

***

            Sampai sekarang masalah hijab di Indonesia masih belum selesai sempurna.  Kebenaran selalu menuntut pengorbanan. Dan pengorbanan selalu menuntut keikhlasan. Semoga amalan mereka yang menolong dan membantuku dulu dicatat sebagai ibadah di sisi Allah. Aku masih berharap bahwa hijab di Indonesia tetap bisa ditegakkan secara sempurna, bagaimanapun caranya. Walaupun kini aku melihat begitu banyak model dan style berjilbab, berkerudung ataupun berhijab. Semoga mereka yang mengenakannya selalu mendapatkan petunjuk Allah. Dan selalu dimudahkan untuk memperoleh kebenaran. 

Semoga para petinggi muslim juga diberi kekuatan untuk mempertahankan hal yang sejak lama sudah menjadi PR bangsa yang mayoritas muslim ini. Aku berharap muslim Indonesia tidak seperti buih di atas permukaan laut. Walaupun muslim negara ini mayoritas tetapi selalu terombang-ambing kehilangan arah. Mereka senantiasa mengikuti gerak angin yang membuaikan tetapi tidak kemana.
Allahu a’lam bi showwab

***

Biodata narasi:
Zahra Qomara adalah nama pena Anna Permatasari Kamarudin. Penikmat dan pencinta sastra, terutama puisi sejak SD. Kisah ini adalah kisah nyata yang pernah dilaluinya dahulu ketika di Sekolah Menengah. Dunia kepenulisan pernah ditinggalkannya dan kembali menulis pertengahan 2011. Awal tahun 2012, mendapat Juara Kedua Lomba Penulisan Puisi Bekasi 7 Warna (FLP Bekasi) dan Juara Kedua Lomba Penulisan Puisi Sparkling Ibuku Adalah Segalanya Bagimu. Beberapa antologinya berupa puisi, kisah inspiratif dan cerpen sudah diterbitkan. Penulis bisa dihubungi melalui email: permata2009@live.com.




             

           
             

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon