Setitik Cahaya


By : Yohana Yoe

Hanya seorang gadis yang lahir di keluarga sederhana. Yang dimana kehidupannya jauh dari kata bahagia. Gadis itu, memiliki seorang saudara kembar yang tidak begitu mirip dengannya. Dan ia juga memiliki dua orang kakak.

            Jika boleh dikata, dulu kehidupannya berkecukupan. Namun, karena hutang kepada bank yang tak sanggup terselesaikan, maka tersitalah rumah gedong mereka. Kini mereka bertahan dengan mengontrak rumah. Pindah kesana-kesini seperti manusia jaman dahulu—nomaden.

            Gadis itu manis, dengan bibirnya yang penuh, dan rambutnya yang panjang. Ia tumbuh dan beranjak remaja di kota kelahirannya. Ia mencintai keluarganya, meski kini tidak utuh lagi, setelah orang tuanya bercerai, dan ia bersama kakak-kakaknya memilih tinggal bersama ibunya—selain karena sang ayah keras kepala dan emosional juga karena sang ayah adalah pengangguran. Dan ditambah lagi, baru-baru ini sang ayah di panggil kembali ke rumah Tuhan.

            Begitulah kehidupan gadis itu, rasa hampa kerap kali menemaninya ketika hanya kesendirian yang menemaninya. Ia hanya seorang gadis yang tidak bisa apa-apa. Ia terlalu rapuh. Rapuh karena masa lalu keluarganya. Entah kenapa, ia harusnya kuat denga apa yang telah menimpa keluarganya. Tapi, kenyataan berkata lain. Ia tumbuh menjadi gadis cengeng, begitu rapuh.

            Ia tumbuh dengan bayang-bayang masa lalu yang suram. Ia tidak pandai di sekolah, tidak seperti saudara kembarnya yang selalu menjadi juara kelas seperti kedua kakaknya. Gadis itu berbeda.

            Sampai akhirnya, dari perbedaan itulah, ia menyadari. Ia memiliki bakat yang lain. Ia menyukai dunia dapur. Saat ia menoleh kebelakang, dan ia mendapati betapa banyak waktu yang telah ia lalui di dapur, saat kecil dulu. 

            Saat kedua orang tuanya bertengkar, ia berlari ke dapur dan pura-pura tidak mendengar pertengkaran itu, dan kemudian bermain dengan pembantu dirumah. Disana ia memasak, mengupas apapun yang bisa ia lakukan di dapur. Terkadang, ia bahkan mengadakan sebuah kompetisi diantara para pembantunya, yaitu berlomba mengupas bawang putih.

            Kini, hanya sepenggal harapan untuk menjadi koki-lah yang menyemangati hidupnya. Ia berjuang, untuk meneruskan usaha ibunya, yaitu restoran kecil-kecilan yang telah di oleh ibunya bangun dari nol kecil sampai akhirnya mencapai puncak kejayaannya hanya untuk ia dan kakak-kakaknya.
           
            Ia bukan tipe gadis yang suka mencurahkan rasa hatinya dalam sebuah buku. Ia tidak suka itu karena saat kecil dulu, ia pernah mendapati kakak laki-lakinya sedang membaca diary kakak perempuannya yang hanya berbentuk lembaran-lembaran kertas alakadarnya.

            Sejak itu ia takut, ia takut menyampaikan perasaannya pada selembar kertas. Sampai suatu hari, saat ia masih duduk di bangku SMP pada pelajaran bimbingan konseling ia menceritakan segalanya.

            Untuk pertama kalinya ia mengungkap aib keluarganya dan juga menangis didepan banyak orang. Sejak saat itu pula ia berjanji ia akan mencurahkan perasaannya dalam bentuk tulisan yang menyiratkan perasaannya saat itu.

            Ia mulai menulis. Ia tetap menulis meskipun tidak ada satupun yang ‘menghargai’ tulisan-tulisannya. Ia tetap menulis agar ia tidak lagi merasa penat, ia tetap menulis agar tidak ada lagi hampa. Ia tetap menulis, berharap ada secercah harapan muncul dari itu.

            Dan tepat pada saat hari Kartini saat ia sudah duduk di kelas dua SMA, ia mendapatkan Juara Harapan Satu Lomba Menulis Kartini. Ia menceritakan ibunya ; ia menceritakan keluarganya ; ia menceritakan kartini dalam hidupnya—ibunya.

            Dan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mendapat penghargaan atas usahanya. Ia bukan lagi gadis yang tidak bisa apa-apa. Ia bukan lagi gadis yang rapuh karena masa lalu. Ia adalah gadis yang berjuang untuk masa depannya.

            Di dalam hatinya yang paling dalam, ia menangis. Hanya inilah yang bisa ia berikan pada ibunya. Pada ibu yang telah membesarkannya sendirian dengan tetes kerungatnya yang deras bercucuran. Hanya ini. Tetapi, ada setitik rasa bangga yang muncul dalam dirinya. Setidaknya ia telah diharapkan menjadi yang nomor satu pada perlombaan itu.

            Dan gadis itu tetap menulis tak peduli apapun yang ia dapatkan dari itu, ia tetap menulis. Karena sebenarnya ia melakukan itu untuk dirinya sendiri. Dan ia yakin, suatu saat nanti, akan ada setitik cahaya yang menyoronya—terang, dan mengangkatnya dari lubang hitam yang telah menyembunyikannya.

            Kemudian, ia akan menunjukkan dirinya diantara gelap.







           
Setitik Cahaya Setitik Cahaya Reviewed by Rival Ardiles on 12.20.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.