Rabu, 31 Oktober 2012

ELOKNYA SERUMPUN POHON PISANG


Oleh : Muhammad Rafii Nasution

Disela-sela pekerjaanku menggembala kambing, aku duduk di jembatan kayu diatas  parit disebuah perkebunan kelapa sawit yang cukup luas. Desa itu bernama desa Sinunukan, kabupaten Madina, Sumatera Utara,   yang sekaligus di desa itulah aku dilahirkan. Dikala itu aku duduk dibangku kelas 3 SMP.  7 tahun yang lalu selepas pulang sekolah aku langsung menggembala kambing dan itu telah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Aku juga sering memancing didaerah tempat gembalaku, yang kebetulan ikannya cukup banyak. Dan aku juga sering tiduran diatas selembar  jembatan kayu/papan. Membaca buku pelajaran sekolah sering kulakukan, suasananya sejuk yang berada ditengah-tengan perkebunan. 

Pernah suatu ketika, aku males untuk belajar. Aku memilih merenung ketimbang belajar pelajaran besok yang akan dipelajari disekolah. Merenung diantara pepohonan kelapa sawit sembari menggembala kambing bagiku memiliki arti tersendiri. cukup banyak kambing yang aku gembala saat itu, kurang lebih ada 15 ekor kambing, cukup banyaak bukan. Memang menggembala kambing sudah menjadi tradisi daerah setempat tempatku tinggal. 

Aku merenungkan masa depanku kelak, hendak kemana jika lulus lulus nanti. Menetap dikampung halaman, hidup seperti kebiasaan orang disana atau merantu kesuatu tempat yang belum pernah aku jalani sama sekali. 

Tanpa kusadari lamunanku dialihkan oleh serumpun pohon pisang yang melabai-lambai tertiup oleh angin yang begitu lumayan kencang. Aku menghampiri pohon pisang itu lalu memperhatikan disekelilingnya. Aku melihat ada tunas pohon pisang, ada batang pohon pisang sudah ditebang yang mulai membusuk, ada batang pohon pisang belum berbuah dan ada pohon pisang yang sudah berbuah tetapi buahnya masih muda dan ada pohon pisang yang buahnya sudah hampir matang. 

Sembari menunduk, aku berpikir lagi, kenapa pohon pisang itu berbuahnya cuman sekali (berbuah, ditebang lalu mati)  , kenapa tidak dua kali atau bahkan lebih. Tidak seperti pohon-pohon lain yang setiap musim menghasilkan buah. 

Dalam lamunanku aku berifikir  “hidup ini cuman sekali” dan “hidup ini selalu menawarkan pilihan”. Dan aku harus harus memilih yang terbaik dalam hidup ku, karena hidup ini cuman sekali, tidak ada yang namanya double life seperti dipermainan games yang nyawanya bisa ditambah. Berarti aku ini  penting dan sangat penting. Karena aku tidak memiliki nyawa cadangan jika telah mati seperti permainan games. 

Saat itu juga aku memutuskan aku harus merantau kesuatu tempat yang belum pernah aku lalui sama sekali. Karena jika aku tinggal ditempat itu lagi, hidupku hanya seperti itu saja sama seperti kebanyakan orang. Sementara “diriku ini penting”.

Keesokan harinya aku langsung mengirim surat ke abang yang kebetulan beliau tinggal dijakarta. Karena terlalu lama untuk mendapatkan balesannya, akupun tidak sabaran ingin tau bagaimana jawaban abang. Aku bela-belain pergi menelepon ketempat telepon umum, Yang dimana dalam satu desa itu hanya ada satu telepon umum. Memang desa ku tempat tinggal tersebut masih desa banget. Dan sungguh sangat susah untuk mendapatkan informasi disana. Tetapi sekarang sudah cukup banyak perkembangan.  Jangankan handphone, aliran listrik saja disana belum ada. Untuk menonton televisi saja itu satu RT rame-rame kerumah yang memiliki televisi, sambil membawa obor untuk penerangan jalan,  dimana pemilik sendiri rumah memakai genset untuk menyalakan lampu. Karena belum ada listrik saat itu. Dan untuk menonton televisi itu awal kalinya bayar perorang. Tetapai untuk per kepala keluarga hitungannya lebih murah.  

Dalam percakapan Aku bilang sama abang “bang setelah lulus nanti aku ga mau tinggal disini lagi” ucapku. Terus kamu mau tinggal dimana? Tanya abang. Aku mau merantau bang, jawabku. Mau merantau kemana? Tanyaa abang. Bang kalau aku masih tiggal disini hidupku akan sama seperti kebanayakan orang disini bang. aku gak mau, aku mau pengalaman yang berbeda bang. aku mau mengubah hidup aku bang. “pokoknya aku gak mau tinggal disini lagi”. sambil merengek-rengek ditelepon. 

Yasudah gini aja, kamu belajar yang benar. Kalau nilai kamu bagus kamu tingal dijakarta sama abang, bagaimana? Jawab abang. Oke, aku siap. Tapai janji ya bang. jika lulus dan nilai akau bagus nanti aku kejakarta, ujarku. Iya, jawab abang. 

Saat itu akupun belajar dengan sungguh-sungguh. Alhasil aku mencapai nilai tertinggi kedua di sekolahku. Alhamdulillah, Rata-rata ijazahku mencapai 8 lebih. 

Dan akupun menagih janji itu, abangpun mengabulkannya. Akupun bersekolah diJakarta dan saat ini kuliah di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).  
Perjuangan hidup di Jakarta jauh sanagat berbeda dengan di desa. Di Jakarta kita bisa mengetahui segalanya, di Jakarta kita bisa mendapatkan segalanya. Dengan kata lain, “di Jakarta apa aja ada”. Apa saja bisa ditemukan di Jakarta. Apalagi zaman sekarang internet sudah dimana-mana, dunia ini bisa dijadikan dalam satu digenggaman. 

Di Jakarta siapa yang tidak tau internet, siapa yang tidak punya handphone (Hp), siapa yang tidak mengenal televisi? Saya rasa semua sudah mengetahuinya.
Masih banyak saudara-saudara kita diluar sana yang membutuhkan informasi. Bukan hanya di medan, di papua, di Kalimantan, di Sulawesi dll. Mereka semua mebutuhkan informasi itu, mereka semua membutuhkan bantuan kita. 

            Mari kita bantu saudara-saudara kita dari sabang sampai merauke.  Melalui lomba cerita inspirasi ini saya mengajak para pembaca untuk bersatu. Dengan kita bersatu masalah bisa kita atasi bersama, tidak ada lagi yang namanya kemiskinan, tidak ada lagi pengangguran yag meraja lela. Dengan mudahnya fasilitas khususnya dijakarta, sudah saatnya kita untuk bangkit.
Ada satu pepatah yang menarik “tuntutlah ilmu sampai ke negeri china”
Ayo kita kejar impian kita setinggi tingginya, “pantang pulang sebelum padam” “pantang menyerah sebelum berhasil”

            NEVER GIVE UP, NEVER GIVE UP, NEVER GIVE UP
Salam sukses…


















Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon