Senin, 22 Oktober 2012

Kerikil Pantai


 Oleh : Mumfasiroh Saputri



Diseberang jalan nampak sosok anak kecil menyembunyikan kepala diantara kaki mungilnya. Terdengar, dia sedang tersendak-sendak seperti susah bernafas. Kuhampiri dia dengan penuh penasaran. Injakan kakiku ini membuat dia mengangkat kepalanya. Ternyata, dia sedang menangis. Tertanda matanya bengkak merah, dan masih ada sisa air mata yang belum diusap.
            ‘”Ade kenapa?”tanganku mengelus-elus pundaknya. Anak kecil itu menatapku tajam, dia kembali mengisakan air mata. Tangisannya lebih keras disbanding sebelumnya. Kupeluk erat tubuhnya. Dia terbenam dalam pelukanku. Perlahan dia mulai diam. Hanya saja suara kecil tangisannya sedikit terdengar olehku.
            “Kakak…”panggilnya.
            “Iya sayang, Ade kenapa?”tanyaku.
            “Temen-temen Seli jahat!!”kecamnya penuh emosi.
            “Emang kenapa?”tanyaku lagi.
            “ugh..ugh..ugh..hhhh”berkali-kali tangannya mengusap air mata yang kerap jatuh dipipinya.
            “Ade mau makan apa?kakak mau ajak Ade makan es krim!”ucapku dengan ekspresi senang.
            “Es krim Ka?”
            “Iya…”anggukku.
            Wajahnya berganti cerah. Dia merasakan kegirangan, ketika ada tawaran gratis makan es krim.
            “Yuk..?”ajakku dengan memegang tangan kanannya.
            “Ka..es krimnya enak yah?”
            Hehmmm. Dia tersenyum kepadaku, akupun tersenyum kepadanya. Banyak es krim yang menempel dipipinya. Sepertinya dia nggak pedulikan itu. Dan ini kesempatanku, bertanya kepadanya?sebenarnya dia itu siapa?.
            “Seli nama yang cantik ya?”pancingku, biar dia nggak mengingat kekesalannya tadi.
            “Iya, Ibu memang pintar kasih nama untukku?”
            “O…Ibumu pasti cantik seperti kamu ya Sel?”pujiku. Mulai deh aku gemes. Dia lucu banget. Pipinya tembem, kulitnya putih dan bibirnya merah. Ditambah lagi ramputnya di kepang dua.
            “Iya dong Ka…, Kakak juga cantik!?”anak kecil saja bisa menilai kalau aku cantik. Hikzzz. Aku jadi malu.
            “Makasih Seli???”
            “Kak, anter Seli pulang yuk?”
            “Emang rumah Seli dimana?”cetusku.
            Dia menggelengkan kepala. Kelihatannya dia juga bingung.
            “Kenapa Seli ada di daerah sini?”heranku.
            “Aku naik angkot Ka, abisnya aku sebel sama temen-temen kelas!, mereka mengataiku pencuri!”
            “Ko bisa!tapi Seli nggak mencuri kan?”
            “Enggak Ka!”jawab Seli mantap.
            “Tapi Seli rebut…”sambung Seli.
            “Maksudnya?”aku mulai lola ndengerin anak kecil bicara.
            “Dina kan punya kerang banyak tuh, tapi nggak boleh diminta!katanya’Kamu kan sudah punya?kenapa minta kerangku!”. Terus aku jawab “Punya, tapi ilang…!”.

            Dengan seksama aku mendengarkan curhat Seli. Dia masih melanjutkan ceritanya
            “Din!kerangmu banyak!kenapa aku nggak boleh minta!?”
            “Belum juga Dina njawab, aku kesal!akhirnya aku ambil kerangnya, itu juga aku cuma ambil satu!”bela Seli kepadaku.
            “Tapi, baru saja kupegang Dina mendorongku. Terus aku jatuh, dan kerangnya pecah tertindih badanku?”ucapnya mantap.
            “Akhirnya Seli lari…?”
            “Nggak tahu sekerang dimana?”sanggah Seli mengempit lidahnya yang merah.
            “Seli tahu alamat rumah dimana?”unggahku, aku mulai takut kalau ada orang yang menuduhku menculik Seli. Ya ampun, ni anak bikin susah saja.
            “Nggak!”jawab Seli singkat.
            “Nomor telpon rumah?”
            Seli geleng satu kali. Aduh!. Bingungku, seandainya aku laporin ke Polisi, pasti perkara tambah ramai. Disamping lama, juga masalah jadi blibet. Justru nanti dari aku, guru TKnya, orang tua dan teman-temannya diikutkan jadi saksi.
            Terpaksa aku mengurusnya sendiri. Mencari tahu, Seli akan dipulangkan kemana?. Huft, walau sempat dipusingkan tempat tinggal Seli. Ada titik terang aku bisa mencari alamat rumah dia. Dengan cara membujuk Seli pergi ke rumah Dina. Yang katanya dulu dia pernah main seharian di rumah Dina.
            Rumahnya nggak jauh dari TKnya. Untung saja Seli nggak lupa arah menuju sekolahnya.
            “Kak, Seli takut…?”hamper gagal, beberapa kali Seli menarik bajuku. Dia hendak menahanku untuk pergi ke rumah Dina.
            “Tadi Kakak sudah bilang, Seli harus jadi anak yang banyak disayang orang?berani bertanggung jawab, pasti nanti Seli dikasih banyak kerang dari Dina?”
            “Banyak teman itu ibarat kerikil yang selalu mengumpul bersama, tanpa mereka bertengkar. Nah!Seli pun demikian?”
            Dia terdiam. Seakan-akan dia menurutiku. Lama aku berputar-putar mencari rumah Dina. Akhirnya diketemukan juga, rumah yang kecil. Lantainyapun belum terpasang keramik. Orang tua Dina mempersilahkanku dan Seli masuk ruang tamu. Dina keluar dari kamar. Dia cukup ramah menyambut kedatangan Seli. Cuma Dina sedikit berfikir, dilihatnya baju yang dikenakan Seli. Dia masih memakai baju seragam sekolah.
            “Kamu belum pulang?”tanya Dina.
            “Belum”jawab Seli lirih.
            “Sel…”aku memberi isyarat kepadanya.
            “Din, maaf?”
            “Maaf apa Sel?”Dina lupa dengan kejadian sebelumnya.
            “Ayo berjabat…”Ibu Dina ikut nimbrung menyatukan mereka.
            “He, iya aku tadi juga salah Sel?aku juga minta maaf ya Sel?kita teman lagi kan!”lugas Dina mengawalinya.
            Diulurkan tangan kanan Seli. Lalu, Seli bilang “Oke”. Mereka saling berpelukan. Dan setengah kerang yang didapat dari mereka rekreasi di pantai Jogja diberikan kepada Seli.
            Setelah mereka baikan. Beberapa menit kemudian, orang tua Seli datang. Ibu Dina yang menelpon Ibu Seli. Cukup sudah perjalananku jadi guide anak kecil. Capai tapi memuaskan.
            “Oiya nama Kakak siapa?”tanya Seli ketika ikut mengantarku sampai depan rumah.
            “Cinta”
            “Bu, namanya cantik ya?seperti orangnya?”
            Ibu Seli tersenyum. Lega. Aku nggak dianggap sebagai penculik Seli. Justru malah kebalikannya, orang tua Seli sangat berterimakasih kepadaku, sampai-sampai aku diijinkan untuk terus bermain bersama Seli. Itu kalau aku sempat. Apalagi Seli sangat menginginkan aku terus mengunjunginya.
            Kenangan yang nggak bakal aku lupakan. Pertama tragis kedua fantastis. Kisah yang membuatku untuk belajar lebih menyayangi anak kecil lagi.  Masih banyak waktu menjalani proses sebagai orang dewasa. Sama halnya Seli, sekarang dia lebih cute lagi bermain bersama teman-temannya. Dia lebih banyak perhatian, tertawa dan belajar bersama dengan teman-temannya.

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon