Rabu, 31 Oktober 2012

KETIKA BUNDA MEMINTA

Oleh :  Bondan Al-Bakasiy
 
Sabtu, 7 Agustus 2004.
Genap satu tahun sudah aku mengikuti ekstrakurikuler Pramuka di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di daerah Tambun, Bekasi. Hari ini aku akan mengikuti acara kemah dan lomba selama 2 minggu di Cibarusah, Bekasi. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Pramuka setiap tanggal 14 Agustus. Pesertanya berasal dari seluruh SMA se-Kabupaten Bekasi.
Aku duduk di depan pintu dan bersiap berangkat ke sekolah terlebih dahulu. Aku akan menginap semalam di sekolah sebelum berangkat bersama teman-teman keesokan paginya. Ketika diriku sedang asyik mengikat tali sepatu, tiba-tiba bunda keluar dari dapur menuju pintu.
“Jangan lupa bawa obat sakit gigi ya,” kata bunda.
“Untuk apa, Bunda?” tanyaku penasaran.
“Untuk jaga-jaga saja,” sambung bunda.
“Tidak perlu, Bunda. Gigiku baik-baik saja,” ujarku penuh keyakinan.
Aku pun berangkat ke sekolah. Aku melangkahkan kaki dengan riang. Serasa diri ini tak berdosa meskipun telah menghiraukan permintaan bunda.
Malam harinya ada seorang teman yang membawa keripik pisang. Lumayan untuk camilan pengganjal perut, pikirku. Aku mengambil satu potong dan memakannya dengan segera. Tak lama kemudian sakit gigiku mendadak kambuh.
Gawat!
Aku menjadi terngiang-ngiang sebuah lagu dangdut. Lagu yang biasa disetel ayahku di rumah.
Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa.
Aku belum pernah merasakan sakit hati sehingga tetap saja sakit gigi ini lebih membuatku merasa nyeri. Tolong! Siapa yang bisa menyembuhkan sakit gigiku ini. Aku sudah mencoba untuk meminum berbagai macam merk obat warung. Namun, sakit giginya malah semakin menjadi-jadi. Dua minggu lamanya aku merasa tersiksa di tempat kemah.
***
April 2006
            Aku merasa senang karena berhasil lulus dari SMA. Namun, rasa senangku ini hanya sebentar. Setelah menyadari bahwa diriku telah lulus SMA, aku malah bingung ke mana kaki ini akan melangkah. Aku ingin sekali kuliah sedangkan kedua orang tuaku menginginkan aku bekerja setelah lulus sekolah.
            “Bayu mau kuliah,” kataku.
            “Kamu serius mau kuliah?” tanya ayah.
            “Serius!” tegasku.
            “Sebenarnya ayah menginginkan kamu untuk bekerja saja, tetapi kalau sepertinya niatmu untuk kuliah sangat kuat. Jika memang hal tersebut baik menurut kamu, jalani saja,” ujar ayah.
“Bunda sepakat dengan ayah. Namun, bunda minta kamu kuliah di tempat yang ada beasiswa atau yang gratis sekalian kalau memang ada,” tambah bunda.
“Baiklah. Sekarang Bayu pamit mau ke sekolah. Mau mencari informasi tentang kuliah.” Aku pun berganti seragam putih abu-abu dan beranjak pergi ke sekolah.   
            Setelah melalui diskusi kecil, akhirnya aku diperbolehkan untuk kuliah. Aku mencari info tentang kuliah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Aku melangkah menuju sekolah sembari berharap mendapatkan pencerahan dan jalan keluar. Sesampainya di sekolah ada salah seorang teman, namanya Irwan, yang mengajakku untuk mendaftar di salah satu sekolah kedinasan yang berada di Jakarta.
Irwan menjelaskan berbagai macam kelebihan sekolah kedinasan tersebut. Sekolah gratis, kerja otomatis, dan mendapatkan uang saku yang nggak bikin kantong tipis. Ia memperlihatkan sebuah fotokopi brosur supaya diriku bisa membaca keterangan lebih lanjut.
Aku memfotokopi lagi brosur tersebut untuk dibawa pulang ke rumah. Aku memperlihatkan brosur tersebut kepada kedua orang tuaku. Ternyata mereka berdua setuju kalau aku mendaftar ke sekolah kedinasan tersebut. Pada keesokan harinya aku langsung meluncur ke Jakarta bersama temanku untuk melakukan pendaftaran.     
Syarat untuk menjadi mahasiswa di sekolah kedinasan tersebut adalah melewati tiga tahap ujian saringan masuk dengan sistem gugur di setiap tahapnya. Tahap pertama adalah tes tertulis meliputi Matematika, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum.  Tahap kedua adalah psikotes dan wawancara. Tahap ketiga adalah tes kesehatan.
Sekitar dua belas ribu pendaftar dari seluruh penjuru Nusantara akan disaring dalam tiga tahap  menjadi tiga ratusan orang yang akan menjadi mahasiswa. Melihat kenyataan tersebut, aku mengikuti tes secara all out saja supaya tidak ada beban di dalam hati ini. Alhamdulillah aku berhasil melewati tes tahap pertama dengan baik.
Selanjutnya aku harus mengikuti tes tahap kedua. Sampai di sini aku mulai berharap banyak supaya lulus dan menjadi salah satu mahasiswa di sekolah kedinasan tersebut. Namun, tes psikotes membuat semangatku turun drastis.  Tes yang sangat aneh menurutku. Bukan karena aku harus mengisi cepat isian yang penuh dengan logika. Bukan karena itu.
Tiga halaman yang disediakan untuk menggambar yang membuatku bingung bukan kepalang. Menggambar adalah pelajaran yang paling kubenci sejak kecil. Aku memang tidak berbakat dalam menggambar, bahkan gambar adikku yang sekolah TK saja masih lebih bagus daripada gambarku.
   Apakah harapanku akan kandas di sini hanya karena satu hal yang kubenci. Ikhtiar terbaik telah kulakukan semampuku dan langkah berikutnya yang harus kulakukan adalah bertawakal kepada Allah.
***
Oktober 2010
Empat tahun lamanya aku berteman dengan rumus dan angka di salah satu sekolah kedinasan di Jakarta. Bulan ini adalah momen spesial bagiku yang selalu ditunggu. Wisuda! Bangganya bunda melihat diriku memakai toga dan menjadi sarjana bergelar S.S.T. (Sarjana Sains Terapan).
Aku berhasil meraih IPK dengan predikat Primagama”. Perhimpunan Mahasiswa Tiga Koma. Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih atas nikmat ilmu yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini.
Aku harus menentukan provinsi di mana aku akan ditempatkan bekerja nantinya. Beberapa hari sebelum pemilihan penempatan, aku bertanya pada bunda. Aku mau meminta pertimbangan dari bunda.
“Bunda maunya aku penempatan di provinsi mana?” tanyaku.
“Bunda maunya kamu kerja di daerah yang terdekat saja,” jawab bunda.
Bunda hanya bilang seperti itu. Bunda tidak menjawab nama provinsi yang diinginkan. Aku berpikir mudah saja. Mungkin bunda menginginkan penempatan di Lampung atau Bali. Setidaknya tidak terlalu jauh dari rumahku di Bekasi jika dibandingkan penempatan di Maluku atau Papua.
Penempatan kerjaku memang harus di luar Pulau Jawa. Ada pengecualian penempatan Pusat yang hanya diperuntukkan bagi beberapa orang terpilih saja. Cantik membayangkan di mana nantinya akan bekerja. Jika memang diriku harus ke Papua. Ya sudahlah. Siapa tahu bisa menonton pertandingan Boaz Salosa dan kawan-kawannya.
***
Akhirnya dua minggu berlalu juga dan aku pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung mengucap salam dan bunda langsung menyambutku dengan perasaan senang.
Sakit gigiku mendadak sembuh begitu saja. Tepat di saat diriku mencium tangan bunda. Langsung kupanjatkan rasa syukurku kepada Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah.
Tiba-tiba aku langsung teringat permintaan bunda sebelum berangkat kemah. Ternyata bunda cinta padaku sehingga memintaku membawa obat sakit gigi untuk berjaga-jaga. Astaghfirullah.
Permintaan bunda adalah sebuah doa. Namun, diriku malah menghiraukannya. Allah pun menjawab dengan segera. Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu yang lemah dan hina ini.
***
            Hari pengumuman tes tahap kedua pun tiba. Aku menuju warung internet (warnet) untuk melihat hasilnya. Kubuka alamat website sekolah kedinasan tersebut dengan harap-harap cemas. Kuturunkan perlahan scroll mouse dan memperhatikan satu demi satu nomor peserta yang lulus tes tahap dua.
Jantungku berdegup kencang dan lisanku tak henti-hentinya berdoa mengharapkan hasil yang terbaik. Deretan nomor peserta sudah sampai pada nomor terakhir dan tidak kutemukan nomorku di sana. Lemas rasanya badan ini setelah melihat hasil pada layar komputer.
Namun, diriku masih penasaran dan ingin mengulanginya sekali lagi. Aku mencoba lebih teliti dan hati-hati dalam memperhatikan satu demi satu nomor peserta. Ternyata nomorku memang ada di sana dan sepertinya aku memang kurang teliti pada kesempatan pertama tadi. Aku langsung menge-print pengumuman tersebut dan membawa pulang ke rumah sebagai bukti untuk kedua orang tuaku.
Keesokan harinya aku langsung menuju rumah sakit untuk mengikuti tes kesehatan. Ada beberapa orang yang kutemui di sana dan aku berinisiatif untuk berkenalan dengan mereka. Dika, salah satu dari mereka, bercerita bahwa biasanya tes kesehatan hanya formalitas saja. Jika tidak ada penyakit kronis dalam tubuh kita, insya Allah lulus tes tahap tiga. Aamiin, batinku dalam hati.
Berselang dua minggu kemudian, tes kesehatan diumumkan. Aku kembali  menuju warnet untuk melihat hasilnya. Kubuka alamat website sekolah kedinasan tersebut dan kali ini perasaanku jauh lebih tenang dari kemarin.
Kuturunkan perlahan scroll mouse dan memperhatikan satu demi satu nomor peserta yang lulus tes tahap tiga. Alhamdulillah aku lulus dan menjadi salah satu dari tiga ratusan orang yang akan menjadi mahasiswa di sekolah kedinasan tersebut.
     Aku langsung teringat permintaan bunda di saat diskusi kecil tentang keinginanku untuk kuliah. Ternyata bunda cinta padaku sehingga bunda menginginkan diriku kuliah di tempat yang ada beasiswa atau yang gratis sekalian kalau memang ada.
Sekolah kedinasan!
Permintaan bunda adalah sebuah doa. Allah pun menjawab dengan segera. Ya Allah, kuhaturkan rasa syukur yang mendalam kepada-Mu karena Engkau telah mengabulkan doa bunda.
***
Akhirnya hari pengumuman penempatan datang juga. Dag dig dug rasanya. Harap-harap cemas menanti sebuah jawaban. Ternyata aku mendapatkan penempatan Pusat karena masuk peringkat lima belas besar. Alhamdulillah.
Aku langsung teringat permintaan bunda sebelum pengumuman penempatan. Ternyata bunda cinta padaku sehingga bunda menginginkan diriku penempatan terdekat dari rumah. 
Jakarta!
Permintaan bunda adalah sebuah doa. Allah pun menjawab dengan segera. Ya Allah, kuhaturkan rasa syukur yang mendalam kepada-Mu karena Engkau telah mengabulkan doa bunda.
***
 “Bersama seorang wanita yang telah melahirkan nanda. Bersama seorang mama, bunda, ummi, apapun namanya. Bersyukur kepada Allah. Bibir ini mengucap hamdalah. Cintanya, kasihnya, semuanya, dia beri dengan tulus.”
(Mama, Bunda, Ummi, Apapun Namanya - The CS)










Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon