Kusesali Untuk Dirimu

Oleh : Asri Cahyani

Berprasangka buruk adalah salah satu kecerobohan yang pernah aku lakukan, dan mungkin tanpa sadar masih sering terbawa hingga saat sekarang. Sebenarnya ini bukanlah hal yang membanggakan untuk ku ceritakan di depan umum. Tapi aku hanya ingin sedikit berbagi tentang kebodohan (berprasangka buruk) yang pernah aku lakukan dulu dan terkadang masih menghantuiku dengan perasaan bersalah hingga saat ini.
Dulu ketika aku masih berada di SMP, tepatnya kelas IX, aku duduk di kelas yang bisa dibilang kelas unggulan di sekolahku. Suatu hal yang cukup membanggakan, karena yang bisa masuk ke kelas itu adalah orang-orang pilihan. Setidaknya itu yang dikatakan para guru yang mengajar di sana.
Sebenarnya bukanlah hal yang mudah berada di kelas seperti itu, karena tentunya mereka yang ada di sana adalah orang-orang yang tidak mudah untuk dikalahkan. Tapi saat itu aku merasa ada seorang teman yang sedikit berbeda dengan yang lain. Meski sering mendapat nilai bagus dalam ulangan atau dari tugas yang diberikan, tak jarang dia terlihat ‘aneh’.
Dia adalah seorang gadis bertubuh jangkung yang sangat pendiam—sedangkan rata-rata siswa di kelasku saat itu adalah orang-orang yang ceria dan bersemangat. Sering kali aku melihatnya hanya duduk melamun dengan tatapan kosong meski sedang dalam jam pelajaran. Sering juga dia terlihat bingung dan panik dengan pertanyaan guru yang sebenarnya tak terlalu berat, dan itu membuatku berpikir bahwa dia terlihat (maaf) idiot. Bahkan seorang guru pernah sedikit terpancing emosinya ketika gadis itu hanya berdiri memegang spidol di depan papan tulis tanpa mencoretkan sedikit pun tinta ke permukaannya. Benar-benar memancing rasa gemasku. Kenapa dia tak bisa melakukan apa-apa terhadap soal semudah itu? Apakah pantas untuk ukuran seorang siswa di kelas unggulan?
“Sepertinya kamu salah kamar (kelas)!” Itu yang dikatakan guruku waktu itu. Memang tak terlalu keras, tapi pastinya kata itu tak ingin dia ucapkan kepada muridnya. Ku pikir mungkin itu karena gadis itu sudah sangat keterlaluan. Kami semua yang menyaksikan diam tak berani berkomentar. Sedangkan yang ditegur hanya menatap lurus ke arah sang guru, seperti tak tahu apa yang memancing emosi perempuan yang tengah menatapnya pula.
Selain itu, beberapa kali pula ia tak masuk sekolah dengan alasan sakit. Kami menganggap itu hal yang biasa hingga suatu ketika ia absen selama sekitar satu minggu. Beberapa perwakilan dari kami pun datang ke rumahnya untuk menjenguknya. Saat kami datang, ia keluar dari kamarnya hanya dengan secuil senyum seperti yang biasa ia tunjukkan—tanpa sepatah kata pun. Justru ibunya yang menemani kami berbincang.
“Dia hanya pusing-pusing saja. Bukan hal yang perlu kalian khawatirkan.” Kami mengucap syukur, meskipun aku merasakan sesuatu yang aneh. Kalau hanya pusing, kenapa harus berhari-hari dan tak kunjung sembuh? Padahal dia juga sudah berobat ke puskesmas sejak awal. Entahlah... mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dari kami, atau memang keadaannya benar seperti itu. Sementara kami berbincang, gadis itu hanya duduk terdiam di sebuah dipan dan tanpa kami sadari perlahan ia mulai berbaring.
“Mungkin sedang pusing lagi…” kata ibunya dengan bibir melengkungkan sebuah senyum, meski terlukis pilu dari sorot matanya. Kami semua menatap gadis itu. Sedangkan dia, tatapannya justru tak jelas mengarah ke mana.
Sehari setelah kami menjenguknya, senyumku tersungging seketika saat melihat gadis itu sudah berada di bangkunya kembali di tengah kelas. Meski bisa dibilang tak dekat dengannya, entah kenapa aku begitu bahagia melihat ia kembali berada di sekolah setelah sehari sebelumnya melihat keadaannya yang terasa asing untukku. Tak tahu kenapa, prasangka burukku tentangnya, berubah menjadi perasaan iba yang begitu mendalam.
“Sudah berangkat?” Lagi-lagi ia hanya tersenyum dan sedikit mengangguk. Mungkin ia hanya masih sedikit lemah. Atau jangan-jangan ia berangkat hanya untuk menunjukkan pada kami bahwa ia sangat menghargai kedatangan kami menjenguknya? Meski sebenarnya ia belum sepenuhnya kuat mengikuti kegiatan di sekolah?
Sayangnya, keesokan harinya ia kembali tak hadir di sekolah. Bahkan tak hanya satu minggu, tapi nyaris satu bulan! Kami semakin khawatir dengan keadaannya, apalagi saat itu adalah sekitar satu bulan sebelum ujian nasional, sejak tiga minggu ketidakhadirannya di sekolah. Pada sekitar minggu keempat, akhirnya kepala sekolah dan beberapa guru menjenguknya untuk yang kesekian kali dan kali ini dengan mengajak perwakilan dari siswa, termasuk aku.
Batinku bergetar seketika saat aku melihat kaki dan tangannya yang berbalut sarung tangan tebal diikatkan pada ujung-ujung tempat tidurnya. Mulutnya menganga, matanya terbelalak, menatap lurus ke langit-langit ruangan yang berisi banyak pasien lain yang hanya disekat dengan beberapa lembar gorden. Dia benar-benar tak terlihat menyadari kehadiran kami.
“Dia sakit apa sih, bu?” tanyaku sambil memeluk lengan salah satu guruku.
“Kanker otak….”
Tak kuasa aku menahan buliran air mengalir dari ujung-ujung mata. Deras. Meski belum begitu paham, aku tahu bahwa ini bukan penyakit yang sepele. Teman-teman dan para guru bergantian mengelus pundakku dan memelukku. Sedangkan ibu dari gadis itu justru menatapku dengan senyum tegarnya, berkata bahwa anaknya tak apa-apa. Bohong! Pikirku saat itu. Mendadak aku membenci diriku sendiri yang sempat menganggap dia (maaf) idiot  hanya karena tingkah anehnya yang ternyata sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dia derita.
“Kenapa kaki dan tangannya harus diikat?” Salah satu kawanku bertanya, setelah aku tak mampu lagi berkata apa-apa.
“Dia sering menyakiti dirinya sendiri. Memukul, mencakar, menjambak rambutnya. Tak terkontrol….” jawab seorang kakaknya.
Aku pun berbalik badan berusaha menyembunyikan tangisku yang semakin tak  terhenti, meski aku tahu mereka masih bisa melihat bagaimana tubuhku terguncang. Selama 14 tahun melihat semua apa yang terjadi di sekitarku, aku rasa saat itulah pertama kalinya aku melihat bagaimana seseorang begitu tersiksa oleh penyakitnya yang bahkan tak terlihat dari perawakan fisiknya.
Sekolah pun semakin rutin mengadakan doa bersama untuk kesiapan kami menghadapi ujian, sekaligus mendoakan kesembuhan gadis itu. Tak sedikit air mata yang tumpah mengiringi lantunan doa kami yang dipimpin oleh seorang guru agama di sekolah. Semuanya begitu berharap dia bisa segera kembali ke sekolah untuk mempersiapkan ujian nasional. Atau setidaknya untuk kesempatan berikutnya.
Sekitar satu minggu sebelum ujian nasional, kami mendapat kabar bahwa dia sempat menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Semua keluarga sekolah, terutama kelas kami, seperti mendapat sebuah suntikkan semangat, tak hanya perasaan bahagia yang begitu luar biasa.
Sayangnya tak bertahan lama. Hari minggu malam, sehari sebelum ujian nasional, tanganku bergetar ketika aku mendapat sebuah pesan di handphoneku. Ternyata gadis itu justru menjadi orang pertama yang lulus di antara kami semua. Tak hanya lulus dari ujian nasional, tapi lulus dari semua ujian yang sudah ia tempuh di dunia selama ini. Dia telah berpulang pada-Nya malam itu.
***
“Kenapa kamu, As? Nggak apa-apa, kan?” Tanya seorang temanku. Melihat keranda dengan kain hijau yang melingkupinya dan dengan sebatang tubuh kaku di dalamnya—yang pernah ku lukai meski tak disadarinya—membuatku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Hanya tetesan penyesalan yang mengalir, meninggalkan jejak basah di pipiku.
Mungkin sebelumnya tak pernah ada yang tahu tentang kebodohanku ini. Aku yakin apa yang diketahui teman-teman dan guruku selama ini hanya sebatas bahwa aku sedih atas kepergian gadis itu. Tapi tidak! Ini semua tentang kesedihan sekaligus penyesalan. Mungkin akan banyak teman yang kecewa padaku jika mereka membaca tulisan ini. Tapi tak apa. Barang kali tulisan ini justru mampu menjadi pengingat untuk kita semua. Jangan sampai kesalahan yang sama terulang lagi padaku dan terjadi pada kalian yang membacanya. Semoga kita semua selalu dijauhkan dari prasangka buruk dan penyesalan yang tentu akan mengiringinya….

(Untuk kawanku almh. Nur Qowiyah, aku minta maaf dan semoga kau mendapatkan tempat yang terbaik dari-Nya)

Boyolali, 26 Mei 2012
Kusesali Untuk Dirimu Kusesali Untuk Dirimu Reviewed by Rival Ardiles on 12.26.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.