Senin, 22 Oktober 2012

Pengabdi Eja Aksara



Oleh : Sandza
 
Aku pernah menangis karena mata ini menyaksikan dan telinga ini mendengar sepenggal kisah tentang jiwa-jiwa pengabdi. Mereka rela meninggalkan hiruk pikuk kehidupan duniawi dan menginfakkan jiwa raga demi sekerat kepuasan sanubari. Tentu saja pengabdi di sini adalah jiwa-jiwa yang dekat dengan ranah kehidupanku yaitu dunia pendidikan.
Kisah-kisah tentang pengabdian seorang guru di sekolah-sekolah terpencil selalu menumpahkan air mataku. Air mata yang oleh kebanyakan laki-laki pantang untuk ditumpahkan. Aku juga memiliki prinsip yang sama. Namun, untuk urusan yang satu ini, aku tidak akan pelit menggulirkan beberapa tetes di pipi.
Ini kisah temanku yang kukenal sekajap mata. Walau dia kukenal dalam hitungan waktu yang tak lama. Namun dia telah memberikan arti hidup yang sangat luar biasa. Pengabdian. Satu kata itu sungguh berarti bagiku. Hingga dalam jiwaku bermukim sebuah tekad yang akan selalu kupegang kalau aku juga ingin menjadi pengabdi.
Temanku itu kukenal secara tak sengaja ketika shalat tarawih di sebuah masjid. Dia seumuran denganku, masih kurang dari seperempat abad tahun ketika itu. Kalau dalam pikiran setiap orang yang namanya pengabdi itu adalah orang-orang yang usianya akan segera bercengkrama dengan tanah. Nah, yang ini beda. Di usianya yang masih muda, temanku rela menjadi pengabdi di bidang pendidikan. Benar-banar tak habis pikir.
“Bukankah kamu seharusnya menjalani hidup seperti orang lain, memiliki istri dan berkeluarga serta memiliki kehidupan yang mapan? Kalau seperti ini apa yang kamu dapatkan?” tanya ini kulontarkan kepadanya karena aku merasa ini tak bisa masuk logika.
“Aku yakin kalau rezeki tidak akan salah mengetuk pintu,” ucapnya mantap menatap langit.
Kesehariannya selalu bercengkrama dengan kapur. Menjadi pengajar. Satu hal yang sangat kubanggakan, dia mengajar di kelas 1 SD. Kebanyakan yang kutemui guru-guru yang mengajar kelas 1 SD biasanya seorang wanita yang sudah berumur karena mengajar kelas 1 SD dituntut untuk sabar. Bagiku, temanku bukan hanya sabar, namun dia juga mempunyai prinsip kalau diantara mereka kelak akan ada yang mengulurkan tangan untuk bercengkrama di surga. Dia juga berprinsip kalau guru yang akan diingat oleh murid adalah guru yang pertama kali mengenalkan muridnya kepada aksara.
“Mata-mata polos itu kelak akan mengenal dunia diawali dengan mengeja aksara. Karena kata-kata adalah jembatan untuk meraih ilmu. Dan aku yakin suatu hari nanti akan ada salah satu anakku yang menjadi kebanggan bangsa karena berhasil menaklukkan dunia!” tegas dan mantap kalimat temanku ini sungguh berhasil menyengat telingaku. Kata-kata itu telah berhasil membangkitkan bara semangat di ragaku. Ah, ternyata sekarang tidak ada alasan buatku untuk tidak bangkit.
Pernah aku melihat dia mengajar. Sekolah tempat dia mengajar di sebuah kampung. Tentu saja karena di perkampungan itulah, siswa-siswanya tidak masuk TK terlebih dahulu. Tingkat keantusiasan orang tua dalam pendidikan juga belum begitu tinggi. Oleh karenanya, tugas mendidik selalu diserahkan sepenuhnya kepada guru. Temanku menjadikan itu sebagai tantangan. Dia berani menambah jam pelajaran agar siswa yang diajarnya bisa cepat membaca.
Ketika aku ke sana, kulihat dia membuat antrian siswa yang akan membaca di papan tulis. Dia mengajarkan anak satu persatu dengan telatennya. Mataku tak mampu membendung untuk berkaca. Sungguh baru kusadari, ternyata guruku yang mengajar ketika aku kelas 1 SD begitu berat perjuangannya. Selain menghadapi anak yang beragam karakternya, mereka juga ternyata dituntut untuk mengenalkan aksara sampai siswa-siswa yang diajarnya menaklukan deret aksara sampai tuntas.
Setelah itu aku tak menemuinya lagi dalam skenario pengadian. Karena aku sudah pindah kota dan dia tak bisa terdeteksi keberadaannya hingga sekarang. Sungguh aku kehilangan seorang kawan yang melihat dunia bukan dari gemerlap melainkan dari sisi sederhana.
“Aku ingin mengabdi ke belantara yang lebih pelosok lagi,” kata-kata ini pernah hinggap di telingaku yang keluar dari bibirnya.
Ya mereka lah, jiwa-jiwa pengabdi dalam bidang pendidikan adalah inspirasi terbesar hidupku dalam merubah pola pikir dan asaku. Aku bertekad ingin memiliki jiwa pengabdi seperti mereka. Seperti temanku. Seperti tokoh Ibu Muslimah di novel Laskar Pelangi. Seperti Butet Manurung yang mendirikan Sokola Rimba dan mengajar anak-anak rimba yang tinggal di hutan pedalaman. Mereka rela melepaskan kesempatan hidup yang mungkin saja lebih baik secara duniawi hanya karena ingin mengajari anak-anak yang haus pendidikan untuk bisa mengeja aksara. Mereka pengabdi eja aksara sejati.
Kalau kemarin-kemarin air mata yang kutumpahkan untuk mereka terbuang sia-sia, kali ini aku ingin sekali mengumpulkan bulir bening tersebut dikumpulkan dalam satu buah cangkir. Tentu saja ini untuk kupersembahkan kepada mereka, jiwa-jiwa pengabdi. Namun, bukan untuk diserahkan langsung karena aku yakin mereka melakukan pengabdian tanpa ingin mendapatkan balasa jasa. Cangkir air mata tersebut akan kusimpan ditempat yang selalu tertangkap mata agar aku tetap membulatkan tekad untuk menjadi seperti mereka suatu hari kelak.

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon