Senin, 22 Oktober 2012

Perjalanan Berharga dari sebuah Perjalanan Hidup


Oleh :  Maftuhatus Sa'diyah

Panas yang menyengat. Suasana Kota Surabaya hari ini sungguh panas, lebih dari biasanya. Matahari seakan berada tepat di atas kepalaku.  Kendaraan lalu-lalang dengan polusinya yang membuat cuaca semakin panas. Aku dan kedua temanku yaitu  Zahra dan Nur berjalan menuju sebuah sanggar yang diapit oleh sungai dan terminal. Ketika itu aku mengantarkan kedua temanku yaitu Zahra dan Nur melakukan sebuah penelitian di Sanggar Alang-alang Surabaya. 

“Sanggar Alang-alang” itulah namanya. Sanggar Alang-alang merupakan sekolah alternatif atau pendidikan luar sekolah yang dikhususkan untuk anak keluarga miskin, anak yatim dan anak terlantar. Pada awalnya Alang-alang hanyalah sebuah komunitas/kelompok belajar anak jalanan yang ada di pinggiran terminal bis Joyoboyo Surabaya. Sanggar ini didirikan karena begitu banyak anak yang terlantar dan hidup di jalanan kota yang dirazia namun tanpa solusi untuk mengatasi akar permasalahan. 

Ketika sampai di depan sanggar, kami berhenti sejenak, karena suasana di sana tampak sepi. Ternyata setelah tanya dengan tukang becak, sanggar pada hari ini tidak ada kegiatan. Karena kebetulan hari ini tanggal merah. Akhirnya kami diberi alamat rumah pemilik sanggar tersebut. Jaraknya cukup jauh dari sanggar. Kita bertiga merasa cemas karena tugas itu dikumpulkan dua hari lagi. Oleh karena itu Zahra dan Nur harus segera mendapatkan data-data yang diperlukan. Kemudian kita memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Didit, pemilik Sanggar Alang-alang. Tapi sebelum ke sana, kita makan di warung terlebih dahulu. Karena perut kita sudah lapar. 

Masih dalam suasana yang panas. Seusai makan, kita melanjutkan perjalanan mencari alamat rumah Pak Didit. Kita awali dengan naik len cokelat, di depan gerbang Dukuh Pakis kita turun. Aku kira di sana ada tukang ojek, ternyata tidak ada. Jadi terpaksa kita harus jalan kaki sampai rumah Pak Didit. selama lima belas menit kita berjalan. 

“Assalamu’alaikum..” kataku dengan mengetuk pintu rumah Pak Didit. “Wa’alaikumsalam..” suara menyahut dari dalam rumah, itu adalah suara istri Pak Didit. “Permisi, Pak Diditnya ada di rumah?” Tanyaku pada ibu Didit. “ Iya ada, mari silahkan masuk.” Katanya. Kita masuk dan bertemu dengan Pak Didit. diawali dengan perkenalan kemudian kita mulai wawancara mengenai data yang ingin kita dapatkan dari beliau. Pak Didit menceritakan banyak hal, mulai dari sejarah, proses, dan perkembangan sanggar hingga saat ini. 

Jika sementara ini banyak anggapan bahwa anak jalanan merupakan penyakit sosial yang sulit diatasi dan sebagai sampah masyarakat yang hanya mengganggu ketertiban dan keindahan kota, maka tidak demikian bagi Didit. Justru mereka merupakan anak negri generasi bangsa yang perlu mendapat perhatian kita semua (sesuai UUD ’45 pasal 34 ayat 1). Itulah sebabnya Didit dengan caranya sendiri yang didukung anak dan istrinya mencoba menyapa dan memperhatikan nasib anak-anak yang kurang beruntung dengan sebutan Anak Negeri. Menurut Didit, sebutan anak jalanan tidak pantas bagi anak-anak tersebut. Karena tidak manusiawi dan cenderung menyebutkan bahwa anak jalanan itu kotor, nakal, dan tidak punya dasar hukum.

Sebelum diberi nama Sanggar Alang-alang, sanggar tersebut disebut SMP (Sekolah Malam Pengamen). Di sekolah tersebut diajarkan etika, estetika, disiplin, dan agama. Sampai sekarang pun pelajaran-pelajaran tersebut diajarkan di sanggar Alang-alang. Pak Didit memberikan fasilitas Sanggar Alang-alang menjadi rumah tempat makanan, seragam, ruang belajar, dan ruang bermain secara cuma-cuma (gratis) bagi mereka. Pak Didit menyebut Sanggar Alang-alang sebagai pendidikan berbasis keluarga.

Dengan dana sendiri, ia mendirikan sebuah sanggar sebagai rumah singgah dan pembinaan bagi anak-anak jalanan di sebuah rumah di kawasan Gunungsari. Kenapa dinamakan Sanggar Alang Alang? Pak Didit berfilosofi, “Ibaratnya anak-anak jalanan di sini adalah rumput alang-alang yang keberadaannya tidak diinginkan oleh siapa saja. Namun, saya berkeinginan agar alang-alang yang semula tak berguna ini nampak indah dan berguna.“ Ia pun akhirnya memilih tempat yang terletak di kawasan terminal bus Joyoboyo waktu itu sebagai “rumah” bagi alang-alang. 

Perjuangan Pak Didit ternyata mendapat simpati dari pihak lain yang turut membantu pengadaan fasilitas. Perpustakaan, ruang baca, serta alat-alat musik dan lukis pun akhirnya menghiasi sanggar ini. Pada awalnya sanggar ini sebenarnya hanyalah sebuah kelompok belajar bagi anak-anak jalanan, baru pada tanggal 28 Maret 2001, Sanggar Alang Alang secara resmi terdaftar sebagai Yayasan Pendidikan Peduli Anak Negeri  (SK. MENKUMDANG RI. Tgl. 19 Januari 2000 no. C-32.HT.03.01 Th.2000. ).

Di sanggar, Pak Didit menjadi bapak. Istrinya, Budha Ersa, sebagai mama. Anak-anak usia 6-17 tahun di Sanggar Alang-alang adalah bagian dari keluarga besar. Setiap anak yang sudah berumur 18 tahun harus keluar dari sanggar, karena sudah tidak termasuk anak-anak lagi dan mereka harus memulai kehidupannya sendiri dari situ mereka akan akan diuji “jika mereka kembali ke jalan artinya mereka tidak lulus. Kalau tidak berarti lulus,” ucap Pak Didit. Anak-anak yang berumur 16 tahun diajarkan membuat kerajinan seperti menjahit sebagai usaha untuk bekerja ketika keluar dari sanggar. Untuk menggantikan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), Pak Didit hanya menuntut satu hal dari anak-anaknya, yakni bersikap sopan.

“Lalu bagaimana bapak bisa merawat dan menaklukkan anak-anak jalanan tersebut. Karena selama ini mereka terkenal nakal, kumuh, dan tidak bisa diatur?” Tanya Zahra. “untuk melakukan itu, sebenarnya kuncinya hanya satu yaitu menerapkan atau mengimplementasikan makna Bismillahirrohamnirrohim dalam kehidupan ini. Artinya kita harus berniat dulu sebelum melakukan sesuatu. Dan tentunya niat itu dilakukan karena Allah. Kemudian kita menerapkan makna rahman  dan rahim yaitu pengasih dan penyayang. Oleh karena itu, yang kita lakukan hanyalah mengasihi dan menyayangi anak-anak tersebut. Kita memperlakukan mereka dengan baik dan sabar. Maka mereka akan takluk dengan kita. Pada mulanya memang sulit, tapi lambat laun hal itu menjadi mudah karena terbiasa. Misalnya, setiap kali anak-anak datang ke sanggar, mereka harus mencium tangan saya, karena hal itu sebagai bentuk penghormatan terhadap orang tua. Dan saya mencium rambut mereka sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak. Selain itu, terdapat makna lain dibalik mencium tangan dan rambut. Contohnya ketika saya mencium rambaut salah satu anak sanggar, kemudian rambutnya berbau tidak enak. Maka ia disuruh kembali dan mandi dengan keramas. Dari situ dapat dilihat bahwa kita mengajarkan arti kebersihan pada anak-anak. ‘Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan,” Pak Didit menjelaskan cukup panjang. 

Oleh karena itu, setiap masuk sanggar, anak-anak selalu dalam kondisi bersih. Mereka menyalami dan memeluk satu sama lain dan menghindari kata-kata kasar dan jorok. Bagi Pak Didit, ini bagian dari pendidikan perilaku.

Pendidikan perilaku hanya satu dari pelajaran yang diajarkan di Sanggar Alang-alang. Meskipun Matematika diajarkan, Sanggar Alang-alang menitikberatkan pada ilmu-ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan anak jalanan.

”Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan,” kata Pak Didit sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Hingga kini, setidaknya empat program sudah dijalankan, yakni bimbingan belajar anak sekolah dan putus sekolah, bimbingan anak berbakat, bimbingan anak perempuan rawan, dan bimbingan ibu dan anak negeri. Dan  tiga kelas, yaitu PAUD (Pendidikian Anak Usia Dini “Bian : Bimbingan anak dan ibu negeri”), PAUS (Pendidikian Anak Usia Sekolah), dan PAUR (Pendidikian Anak Usia remaja). Kegiatan belajar-mengajar di Sanggar alang-alang berlangsung setiap hari senin sampai jum’at.

Kerja keras Pak Didit bertahun-tahun pun berbuah hasil. Anak-anak negeri yang dulunya tampak kumuh, liar, jorok dan berpakaian sekenanya lambat laun berubah menjadi lebih rapi, santun, dan sopan. Saat hadir di kegiatan sanggar, anak-anak diwajibkan untuk memakai pakaian yang bersih dan rapi. Selain itu mereka juga diajarkan untuk berlaku sopan kepada sesama dan orang yang lebih tua. Dengan bantuan berbagai pihak sanggar ini juga memberikan pelajaran sekolah umum kepada anak-anak.

Setelah kita mendapatkan data yang dibutuhkan. Kita hendak berpamitan pulang. Tapi saat itu Surabaya diguyur hujan yang lebat. Seihngga kita harus tinggal di rumah pak Didit hingga hujan reda. Sambil menunggu hujan reda, kita melihat-lihat album sanggar alang-alang. Dan melihat beberapa penghargaan yang diperoleh Pak Didit dari berbagai pihak. Setelah hujan reda, kita berpamitan pulang pada Pak Didit dan istrinya. Tentunya kita kembali dengan berjalan kaki sampai di depan gerbang Dukuh Pakis. 

Selain mendapatkan data yang kita butuhkan, kita juga mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yaitu bagaimana kita menerapkan bismillahirrohmanirromim dalam kehidupan kita sehari-hari dan sesungguhnya belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. 



Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon