Rabu, 21 Mei 2014

Cinta Matahari, Bulan atau Air

Oleh : Novia Hollida Annisa



Cinta Matahari, Bulan atau Air
Parasnya memang tak pernah dapat terlihat, sayup suaranya pun tak dapat
didengar, kehangatannya juga tak dapat kita raba dengan kulit indah milik
makhluk tertampan atau tercantik sekalipun, harumnya yang mewangi juga bukan
aroma memabukkan yang bisa kita nikmati. Namun kehadirannya, keberadaannya
dan kepergiannya akan terasa jelas tepat di hati setiap insan yang bernyawa.
Iya kita sebut namanya cinta.

Cinta merupakan sebuah perasaan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia yang
aku yakin semua pasti pernah merasakannya. Cinta pada orang tua, cinta pada
sahabat, cinta pada kekasih dan cinta kepada Yang Maha Cinta, Tuhan yang
menciptakan rasa yang indah tiada duanya itu.

Aku kadang sering berfikir tentang definisi-definisi yang beraneka macam
tentang rasa aneh tersebut. Iya, aku sebut rasa itu aneh. Rasa tersebut
sering kali membuatku merasa bahagia, resah sedih, prustasi, berbunga-bunga
dan banyak rasa yang mungkin tak akan pernah bisa aku lukiskan dengan
kata-kata. Bagaimana tidak misalnya saja saat kita ingin membahagiakan kedua
orang tua sebagai seorang anak dengan prestasi yang baik, lalu bagaimana
jika keadaannya jika kita hanya memiliki kemampuan dengan otak pas-pasan.
Bagaimana jika kita ingin selalu mengerti perasaan seorang sahabat tapi
sebagaimana kita ketahui manusia diciptakan dengan pribadi bermacam-macam
dan selalu berbeda paham. Bagaimana ketika kita ingin menjadi seorang
kekasih idaman saat paras tak cantik atau tak tampan, saat pribadi kita
sendiri tak senada dengan orang yang bersanding dengan kita. Lalu bagaimana
pula kita akan menjadi hamba Tuhan yang berakhlak mulia ketika kita lebih
disibukkan dengan urusan dunia yang tak kunjung usai dan mengesampingkan
Tuhan yang kita kasihi.

        Ketika berbicara cinta kadang aku teringat dengan sosok matahari, bulan
dan air. Kadang aku juga mencoba memfilosofi cinta dengan ketiganya. Sedikit
konyol memang, ketika kita mengartikan cinta terhadap benda mati. Iya karena
kita tahu cinta adalah rasa milik setiap makhluk yang bernyawa.

Matahari . . .
Benda bulat yang tersusun atas gas-gas panas ini sudah dari dulu kita kenal,
sudah dari dahulu kita rasakan. Ia menyinari bumi sepanjang hari meski
kadang kita tak merasakan kehangatannya ketika malam mulai datang. Apakah
cinta itu layaknya sinar yang dimiliki sang matahari?

Kekuatan yang dimiliki matahari memang sangat amat dahsyat. Panasnya dapat
melewati ratusan ribu kilo di alam semesta yang akhirnya dapat kita rasakan
di bumi tempat kita berpijak.

    Dia menyinari sepanjang hari yang kita sebut tanpa mengharap balasan dari
apa yang mendapat sinar kehangatannya. Iya seperti yang sering kita dengar
dilagu anak-anak yang berjudul kasih ibu itu. Kekuatannya yang sangat besar
membuat kita kadang terlalu berbahaya jika kita terlalu dekat. Ia akan
membuat kita kepanasan dan kesakitan. Ia memang tidak boleh terlalu dekat.
Tidak boleh mendekat dan jangan dekat-dekat. Tapi matahari, ia sendiri. Tak
butuhkah ia seorang teman? Seorang teman untuk menemani kesendiriannya,
untuk melengkapi sinarnya yang menjadi kebesarannya. Tapi aku hancur jika
terlalu dekat, aku akan leleh dan tak lagi bisa bersamanya.

    Namun bagaimana jika matahari jauh? Akankah aku menjadi seperti Pluto yang
tak mendapat kehangatan cintanya. Bagaimana jika aku kehilangan cinta
matahari? Aku kedinginan, hampa dan tak mendapatkan cinta matahari sebesar
merkurius atau venus dapatkan. Meski aku akan terus meneladaninya sebagai
sosok yang berdiri tegak, seorang diri dan paling bersinar diantara yang
lain. Namun apalah artinya jika aku tak terhangatkan olehnya.

Cinta bulan . . .
Benda cantik berlubang-lubang ini bisa kusebut sebagai benda paling setia
kepada bumi. Ia bersama-sama bumi berputar mengelilingi matahari. Sinarnya
setiap malam yang selalu menyinari gelap malam sahabat terkasihnya ini,
bumi. Paras aslinya yang tak secantik kelihatannya tak membuatnya rendah
diri dan malu untuk menunjukkan keindahan sinarnya. Ditemani dengan
bintang-bintang ia bersinar, meski sebenarnya ia paling berukuran kecil.
Namun ia dekat, ia sangat dekat dan tak melukai seperti halnya matahari. Ia
dekat hingga terlihat lebih besar dari cahaya mungil nan indah dari para
bintang yang juga besinar bersamanya.

    Aku menyukainya, cintanya dekat dan tidak membuatku terluka. Keindahannya
melengkapi malam-malam gelap gulita bumiku sayang. Namun yang membuatku
bersedih, sinar yang ia berikan bukanlah sinar yang sejatinya ia miliki. Ia
tak memiliki sinar, sinarnya milik matahari, milik benda lain. Sekali lagi
aku berpikir, apakah itu yang hakikatnya disebut cinta? Dekat, indah namun
ia juga hidup dengan yang lain. Meski aku tahu ia membagikan sinarnya juga
untukku. Ia memberikannya tanpa melukaiku. Tapi ketika aku tahu ia juga
bersama matahari aku merasa cukup terluka dengan tidak ia sengaja.
Hal ini membuatku tak henti berpikir dan berpikir apa arti dari hal
tersebut.

Belum selesai aku berfikir tentang cinta matahari dan bulan aku kembali
tercengang melihat air. Iya air terus mengalir kemana ia mau. Mengalirkan
cinta dan kasih sayangnya lewat dingin dan segarnya kejernihan yang ia
miliki. Aku tertarik, aku rasa aku juga mulai menyukainya. Aku tertarik
dengannya yang terus mengalir dan tak henti mengalir. Ia akan memberikan
cintanya selamanya. Iya selamanya tanpa membaginya dengan yang lain, hanya
untuk apa dan siapa ditempat ia mengalir.

    Aku menyukainya juga sebagai pejuang. Bagaimana ia tidak kita sebut sebagai
pejuang saat ia harus terus mengalir dan menghantam apapun yang ada di
depannya yang akan terus menghadapi apapun yang ada di depannya dengan
kemampuan yang ia miliki. Pejuang cinta, aku menyebutnya pejuang cinta.
Namun aku kembali sedikit merasa kecewa. Air terus menerus mengalir, tak
pandang tempat pemberhentian. Sedangkan aku, aku tidak mau terus menerus
mengalir. Kadang aku juga ingin menerjang arus. Lalu bagaimana ketika arah
kami tak lagi sama, ketika ia harus mengalir ke sungai dan aku harus pergi
ke laut. Air tidak bisa menetukan arahnya untuk tetap mengalirkan cintanya
tetap denganku. Ia mengalir dan tetap mengalir, tidak memperdulikanku.

    Ini membuatku semakin kacau dan bertanya-tanya apa sebenarnya cinta itu.
Perasaan indah namun menyakitkan, perasaan damai namun membingungkan atau
apakah. Bersama ini aku sedikit demi sedikit mengerti cinta itu tidak harus
menggenggam sehingga menyakiti seperti kedekatan matahari. Kita bisa
merangkulnya dalam atmosfer kehangatan yang masih dapat kita pancarkan.
Cinta itu rasa berbagi dalam keterbatasan. Seperti halnya bulan dengan
lubangnya. Keindahan yang ia dapat dari matahari ia berikan kepada bumi
dengan kesetiaan dan kedamaian untuk berevolusi bersama. Cinta itu rasa yang
tak pernah mati, terus mengalir seperti air. Meski kadang tak sejalan namun
tetap mengalir bersama hingga kemudian akan menemukan keindahan di hilir
kebahagiaan.



Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon