DI MANA BUMI DIPIJAK DI SITU LANGIT DIJUNJUNG

Oleh : Nur Wakhid


Sebuah peribahasa yang sering aku mendengarnya, “ Di mana bumi dipijak di situ langit di junjung,” selalu terngiang di hatiku. Aku tidak tahu makna yang sebenarnya dari peribahasa itu. Yang aku tahu, menurut penafsiranku sendiri adalah, “Di manapun kamu berada maka di situlah tempat terbaik bagimu, dan terimalah sebagai syukur.” Entah pemahamanku ini benar atau tidak, yang jelas, aku merasa nyaman dengan penafsiranku sendiri. Setidaknya sebagai penghibur hatiku agar tidak gampang mengeluh dengan segala situasi dan kondisi yang menderaku. Apapun yang terjadi, apapun yang aku hadapi, aku harus selalu tersenyum, dan hatiku mengucap syukur al-hamdulillahi rabbil’alamin.

    Termasuk saat ini, detik ini, ketika aku sedang didera masalah ekonomi. Bayangkan, anak sulungku baru saja menyelesaikan ujian akhir. Dia sudah aku daftarkan disebuah pesantren ternama di Kota Malang. Tiga hari kemarin ikut tes, dan di terima.

    “Anak Bapak di terima, “ suara pengurus pondok ketika aku menelponnya menanyakan apakah anakku diterima.

    Tentu saja aku sangat bahagia, bahwa anakku diterima di pesantren yang menerapkan bilingual tersebut. Hanya saja, dibalik kegembiraanku, aku tak bisa menyembunyikan rasa cemasku. Mengapa? Aku harus melunasi uang sekian juta tanggal 8 Juni 2014 besok. Sementara kondisiku saat ini, jangankan uang juta-jutaan, untuk belanja sehari-hari saja, kondisiku sedang kembang-kempis.

    Tapi aku harus tetap tersenyum. Ya, harus tetap tersenyum sebagai rasa syukurku kepada Allah, yang mentakdirku sebagai diriku . Dengan segala kelebihan dan kekuranganku saat ini, inilah aset paling berharga dalam hidupku. Kelebihanku adalah kekayaanku. Kekuranganku juga kekayaanku. Dengan mengingat peribahasa, “Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung,” merupakan api motivasi untuk membangkitkan semangatku menggali potensi yang Allah titipkan padaku untuk mengatasi masalah tersebut. Bukankah setiap manusia diberikan potensi oleh Allah untuk mengatasi setiap problema yang dihadapinya ? Dan salah satu pronblema itu adalah masalah ekonomi, sebagaimana yang aku hadapi detik ini.

    Aku teringat sebuah kisah, seorang pemuda yang sangat bernafsu mempunyai emas, sebagai syarat untuk meminang sang gadis pujaan. Pemuda tadi tiada henti-hentinya bermunajat kepada Allah agar keinginannya memiliki emas terkabul. Tapi apa yang terjadi, dia tidak menemukan emas sebagaimana yang diharapkannya, melainkan berkarung-karung kulit kacang. Kebetulan saat itu, tetangganaya sedang punya sebuah hajatan pernikahan. Dan sampah kulit kacang dari hajatan tersebut, dibuang dipekarangan belakang. Pemuda tadi memungutnya. Dalam hati berkata, ” Ya, Allah…Engkau tidak mengirimiku sekarung emas, tapi berkarung-karung kulit kacang. Saya munajat kepadaMu ya Allah, jadikanlah kulit kacang ini emas !”

Lalu apakah kulit kacang tadi langsung berubah menjadi emas ? Tidak. Melainkan Allah memberikan ilham kepada pemuda tadi agar membakar kulit kacang tersebut. Kulit kacang dibakar hingga menjadi abu. Lalu abu-abu itu dikumpulkan dan dibungkus dalam wadah plastik berbagai ukuran. Dengan senyum bahagia, pemuda tadi melenggang mendatangi warung-warung tetangga, menitipkan abu bekas kulit kacang tadi di warung tersebut.

“Bu, saya titip abu gosok. Yang ukuran sekilo seribu rupiah, nanti saya mengambilnya hanya sembilan ratus rupiah. Yang ukurang setengah kilo, lima ratus rupiah, saya mengambilnya empat ratus lima puluh rupiah.” Demikian pemuda tadi menawarkan limbah kulit kacang yang telah disulapnya menjadi abu gosok ke warung-warung. 

Abu gosoknya laris-manis. Uang hasil jualan abu gosok sebagian ditabung, digunakan untuk modal usaha lainnya. Lama-lama pemuda tadi akhirnya menjadi seorang pedagang yang sukses, dan bisa meraih impiannya memiliki emas. Dan tentu saja wanita idamannya sangat bangga dengan keuletan pemuda tadi dalam mengatasi problema hidupnya.

Lalu, bagaimana dengan aku. Aku memang aku , bukan pemuda itu. Pemuda itu diberi keahlian memang dalam bidang itu, kreatif dan punya insting berdagang. Sedangkan aku yang tidak memiliki jiwa berdagang, tidak bisa meniru pemuda tadi, mengumpulkan kulit kacang lalu aku bakar dan menjualnya. Tidak bisa. Aku adalah aku, yang oleh Allah juga diberi potensi sendiri.

Tapi setidaknya kisah pemuda itu, telah menginspirasiku untuk tidak menyerah dalam menghadapi problema kehidupan, yakni masalah ekonomi. Dan kisah itu telah memberikan inspirasi, bahwa rizki itu tidak kemana-mana. Rizki itu ada di sekitar kita. Saat ini. Detik ini. Tinggal kita paham apa tidak, bisa memanfaatkannya apa tidak, gitu aja.

Dengan tersenyum ceriah, secerah suasana pagi ini, maka aku ketik tulisan ini, sebagai inspirasi bagi diriku sendiri sebagai salah satu ikhtiar jalan keluar untuk mengatasi masalah ekonomi yang sedang menderaku. Kata orang sih, aku punya sedikit bakat menulis. Nah, bakat itu kucoba aku tuangkan di
sini, siapa tahu aku lolos, dan langkah berikutnya, aku dipercaya untuk menulis sebuah novel misalnya, kemudian diterbitkan….Nah…lumayan kan…hehehehehe……semoga saja. Wallahu a’lamu bishshowab.
                   
                        Malang, 29 Mei 2014

                        NUR WAKHID


DI MANA BUMI DIPIJAK DI SITU LANGIT DIJUNJUNG DI MANA BUMI DIPIJAK DI SITU LANGIT DIJUNJUNG Reviewed by Rival Ardiles on 09.52.00 Rating: 5

3 komentar:

  1. MBOIS.... kisah yg menginspirasi aku untuk menulis lagi....
    (y) (y) (y)

    BalasHapus
  2. jos gandhos....!!!

    BalasHapus
  3. mantap, bos!
    bakat'e dah tampak nurun ke putrine, kayak'e.
    selamat, ya.

    BalasHapus

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.