Kepriwe Kie?!

Oleh : Contemporarily Aree


Hari pertama di kelas tiga. Windy tergesa menerobos kerumunan murid-murid di sepanjang koridor menuju kelasnya. Bel akan berdering dalam lima menit. Ah, dari pintu dilihatnya Niken telah punya teman satu meja. Melihat sekeliling, hanya tersisa satu meja kosong, di belakang Niken. Windy menempati bangku itu sambil menyesali kenapa bangun terlambat. Kelas terasa bising oleh suara murid yang saling bercerita tentang liburan kemarin. Kini sebagian dari mereka telah masuk dan menempati bangku masing-masing. Mata Windy mencari-cari Riri. Wah, Riri belum datang, hatinya sedikit lega. Artinya, Riri akan duduk bersamanya. Selain Niken, Riri adalah tumpuan harapan Windy untuk mendapatkan nilai bagus. Windy adalah siswa penganut fanatik teori “posisi menentukan prestasi”. Ketimbang belajar mati-matian, ia memilih mengumpulkan jawaban untuk semua soal mata pelajaran.

Seorang anak perempuan menghampiri dan minta ijin duduk disampingnya. Logatnya tak biasa, dan Windy tak mengenalnya. “Sudah ada yang menempati”, ujarnya acuh. Anak itu pun melihat sekeliling. Tak terlihat bangku kosong untuknya. Akhirnya, ia berdiri dengan canggung di muka kelas, dekat pintu.

Kedatangan Ibu Linda, wali kelas sekaligus guru Bahasa Inggris, mengakhiri penderitaan gadis berpipi chabby itu. Tapi duduk di sebelah Windy sangat tak nyaman. Mata kawan barunya itu tak pernah mengarah padanya. Tak sekalipun. Kekesalan Windy memuncak ketika mengetahui bahwa Riri tak sekelas lagi dengannya.

“Kepriwe kie?” gadis sederhana itu berbicara pada dirinya sendiri. Windy bertambah sebal. “Duh, ini siapa sih. Bicara apa, ya. Bisa-bisanya jadi teman satu mejaku”, rasa sebal itu mengendap di hatinya.

Anak baru itu bernama Ayu. Memiliki aksen daerah, dimana semua huruf diucapkan terlalu fasih. Aksen itu menyulitkannya dalam pelajaran bahasa Inggris. Selain sulit dipahami telinga kawan yang lain, pengucapannya yang terasa lucu membuatnya menjadi bahan tertawaan. Windy, Niken dan jiwa-jiwa pembuli kelas ini segera tergerak mengukuhkan nama untuk gadis periang itu, Ayu Thebbel. Hate at the first sight, Windy senantiasa kesal melihat Ayu, apalagi harus satu kelompok dengannya. Sakit telinganya mendengar “Kepriwe kie”, ucapan Ayu jika berpikir. Padahal, kepandaian dan kecerdikan Ayu dalam menyelesaikan tugas banyak menyumbangkan nilai-nilai tinggi untuk Windy.

Ayu tak pernah marah. Semua lelucon tentang gayanya yang sederhana, logatnya yang membuat “murid sekolah elit” terpingkal-pingkal, tak menghentikan antusias belajarnya. Bahkan, ia tak sedikitpun enggan mengajukan diri membaca narasi dalam bahasa Inggris. Dan, sifatnya yang sederhana sedikit demi sedikit menjadi jala persahabatan dengan kawan-kawan yang lain. Hingga satu hari yang pahit, membuat Ayu menyerah.

“Tak bisa! Sudah terbayang efeknya, malu kelas kita.” Semua kawan menyetujui pendapat itu, yang bersumber dari Windy, ketika Ayu mengajukan diri mengikuti lomba debat dalam Bahasa Inggris mewakili kelas mereka. Di akhir semester gasal, organisasi siswa rutin mengadakan kompetisi olahraga, seni dan bahasa asing. Penolakan kali ini tak bisa dilunakkan Ayu. Ayu yang ceria, tak pernah lagi mengangkat tangannya untuk membaca narasi bahasa Inggris. Ia juga tak lagi berinisiatif menjawab pertanyaan guru, dalam pelajaran apapun.

Begitu juga hari itu. Kelas begitu senyap. Semua menunggu ada seseorang yang menjawab pertanyaan Bu Linda, wali kelas mereka, Guru Bahasa Inggris. Niken mencoba menjawab, namun tidak tepat.

“Tak ada yang ingat? Satu kelas ini akan mendapat hukuman!”

Bu Linda tak sekedar mengancam. Hal seperti ini pernah terjadi. Hukumannya, capek deh!

Di tengah ketegangan, terdengar suara bergumam, “Bhu, If you had worked harder, you would have passed the exam”.

Bu Linda mengernyit. Ayu mengulangi kalimatnya. “Yes, that’s right, Ayu.” Bu Linda tersenyum. “Good.” Seisi kelas merasa lega.

Sejak Ayu Thebbel menjadi class hero, Niken mendekatinya. Tak sungkan makan siang bersama. Tak ragu duduk berdua ketika pendalaman materi. Tak peduli dengan ciri khas “Qepriwe Qie”, yang dulu aneh di telinganya. Dan, penderitaan Windy dimulai. Gengsi bergabung dengan Ayu, Windy semakin terpisah dengan Niken. Dan, nilai-nilai ulangannya beramai-ramai melompat ke bawah.

***

Semester terakhir di kelas tiga, waktu terbang tanpa tengok kiri kanan. Seperti mimpi, tiba-tiba mereka semua berada di aula untuk perpisahan. Saatnya kerja keras terbayar dengan kedamaian tentang masa depan, dan kadang berbuah penghargaan. Namun tak sedikit yang diam-diam menyesali alokasi waktu tiga tahun terakhir, dan bagi beberapa yang lain inilah saat menerima kenyataan bahwa masa bersenang-senang telah berakhir. Lalu, ada kejutan bagi semua, “Dan nilai ujian terbaik untuk Bahasa Inggris tahun ini adalah… Ayu!”

Ayu berseri-seri maju ke depan aula. Menunjukkan trofinya ke seluruh teman-temannya seraya bercanda, ”Marbheluuus, maarbheluuus” bergaya Jarjit di serial Upin dan Ipin. Semua, tergelak tak putus. Terbenam dalam riuh, Windy ikut tersenyum memendam kegelisahan tentang hasil studi yang digenggamnya.

Irama dag dug dag dug menemani langkah lambat Windy menuju rumah. Terbayang ekspresi orang tuanya nanti. Alasan apa yang cocok untuk menjawab kekecewaan mereka? Mendung di langit senada dengan warna hatinya. Sepuluh langkah dari gerbang rumah, tetiba petir menggelegar, hati yang panik berteriak, “KEPRIWE KIE?!”


Tulisan ini dilombakan di Lomba Tulisan Inspirasi 2014

Kepriwe Kie?! Kepriwe Kie?! Reviewed by Rival Ardiles on 09.45.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.