Mimpi Harun

Oleh : Yekti Widiati



 “Dik ... dik ... !“ sebuah suara membuatnya menoleh ke sisi kanan. Seorang wanita paro baya menghawainya.“ Sini, dik ...!! “ 

Anak laki-laki kecil itu melangkah mendekati kelompok ibu-ibu itu. Pagi itu dia menjajakan makanan buatan emak, tetapi dia lebih banyak memperhatikan pengunjung daerah wisata ini berfoto ria dari pada menawarkan dagangannya. Hatinya sangat tertarik, ingin bisa memotret tetapi dia tidak mempunyai kamera dan tidak tahu pula cara memakainya.
    
    “Tolong fotokan kami, eh ... siapa namamu,dik?”
    “ Harun, bu.”

    “ Hai bu Hoei ... tolong pegangkan dagangan si Harun ini. Kami minta tolong dia fotokan kami...” Wanita yang dipanggil bu Hoei itu pun mendekat.

   “ OK...” katanya. “Apa yang kamu jual, ni?” dilihatnya isi keranjang yang dijunjung di kepala Harun tadi.” Macam-macam kudapan, bu...” jawab Harun menyerahkan keranjangnya kepada bu Hoei lalu menerima beberapa BB dari ibu-ibu itu. Ia mendapat penjelasan apa yang harus
dilakukannya.

    “ Ibu-ibu ...berdirinya bergeser ke sebelah sini, bu. Boleh air terjunnya kelihatan” katanya sambil melihat ke kamera BB. Beberapa kali posisi ibu-ibu itu berubah, beberapa kali juga Harun mengganti BB untuk mengambil gambar dan beberapa kali pula ia mengganti posisi berdirinya. Kadang-kadang
jongkok, ada kalanya berdiri dan ada pula menelentang di tepi jalan yang ramai pengunjung itu.

“ Boleh saya ambil gambar ibu Hoei itu bu? “ katanya ketika menyerahkan BB kepada Ibu Lena yang tadi memanggilnya. Setelah diizinkan diambilnya foto ibu Hoei yang tidak menyadari apa yang dilakukan Harun.

    Tugasnya selesai kelompok ibu-ibu itu memberinya uang. Harun menolak. ”Terima kasih, bu...tidak usah...! Saya senang bisa membantu ibu-ibu...!” Ibu Hoei menyerahkan keranjangnya “ E .... nak! Ndak boleh menolak rejeki,do! Itu rejeki Tuhan untuk kamu, lewat tangan ibu-ibu itu, karena puas dengan hasil potretan kamu. Terima sajalah, tabungkan uangnya. Nanti kalau ada yang minta kamu memotret, juga kamu terima...ya!” Harun mengangguk, hatinya terharu oleh kata-kata ibu Hoei .
Hari itu lokasi air terjun Harau sungguh ramai. Ada tiga bus wisata yang menurunkan wisatawan disitu. Mereka berseragam kaus hijau. Usianya seumur Pak Tuanya. Rupanya mereka sedang mengadakan reuni dan berkunjung ke lembah Harau.

“ Coba lihat, apa yang kamu jual?’ seorang ibu melongok ke keranjangnya.

“ Ini rakik pisang, bu “ Jawab Harun sambil menyerahkan sebuah rakik pisang yang bundar besar. “ Cobalah bu, enak kok... buatan emak sendiri, baru pula bu...” Ibu itu menggigitnya lalu dikunyah . “ Enak...bu Widhy?” tanya temannya. Ia mengangguk. “ Enak ... Berapa kamu jual,
ini?”

“ Tiga ribu rupiah sebuah, bu. Ini masih ada empat belas buah “ Bu Widhy mengambilnya semua . Diulurkannya uang lima puluh ribuan “ Ambil saja kembaliannya “ katanya sambil membagikan rakik pisang itu ke teman-temannya.

“Jangan, bu ... Ibu ambil saja godok paruik ayam ini empat buah.“ Harun memasukkan makanan yang ditawarkannya kedalam plastik dan menyerahkannya kepada bu Widhy. Pengunjung yang lain mendekat. Dalam waktu sekejap habislah isi keranjang Harun. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh ledakan ketawa bu Hoei yang melihat hasil potretan Harun. Bu Hoei dengan keranjang rakik pisang!

“Kamu tadi yang memotret ibu-ibu itu?”seorang bapak mendekatinya.

“Tolong kamu ambil pula foto kami. Disana ya..!” Dia menunjuk ke arah mereka datang tadi. Harun mengatur posisi mereka yang berdiri di tepi sawah dengan latar belakang dinding bukit yang menjulang tinggi di belakang mereka.

“Coba kamu foto dengan ini..” Seorang bapak mengulurkan kamera digitalnya. “Kalau sudah kamu temukan objeknya, kamu tekan saja tombol ini” jelasnya.

“ Motret apa ini, pak ...”

“ Pak Chandra...nama bapak! Potret saja apa yang kamu suka ....apa sajalah! Semut pun .... kalau kamu pikir itu indah ... ya...potret saja. Bapak tunggu di warung itu ya....” kata pak Chandra sambil menyerahkan kameranya.

Harun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Matahari sudah tinggi ketika bis wisata datang untuk menjemput mereka . Harun mencari Pak Chandra dan menyerahkan kameranya. Pak Chandra menyigi hasil bidikan Harun. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk. Sebelum naik bus , pak Chandra memberinya sebuah kartu nama.

“ Nampaknya kamu punya bakat. Cari bapak kalau kamu ke Bukit Tinggi, ya..” Bus mulai bergerak meninggalkan lembah Harau. Harun pulang dan menyerahkan hasil jualannya kepada emak.

“ Mak ... aku ingin menjadi juru foto yang hebat , pak Chandra tadi bilang aku punya bakat... “kata Harun ketika malam itu membantu emak di dapur. Dihidupkannya api dengan semprong bambunya.

“Emak setuju saja, Un. Apa yang baik menurut kamu lah!Asal jangan kau tinggalkan sekolah! Tapi ...nampaknya... pundi-pundi emak yang keberatan. Kodak itu kan mahal harganya, jutaan Un, kodak yang bagus! ”

“ Emak cukup doakan saja ... Un mau menabung, biar bisa beli kodak. Mak tenang saja!” hiburnya.. 

“Mak... bila Uda Ramli ke Bukit Tinggi? Un mau ikut, mak. Mau ke tempat pak Chandra. “

“Boleh ... Mungkin sepekan lagi uda ke Bukit Tinggi, “ jawab emak sambil mengusap matanya yang berair.

“Kenapa, mak? “

“Asap ...! “ jawab emak, berharap Harun percaya. “Tidurlah... besok jualan lagi Hari libur begini kan banyak wisatawan yang datang.“

Hari yang diharap-harapkan tiba. Harun ikut Uda Ramli ke Bukit Tinggi.Dia ditinggalkan di Studio photo milik pak Chandra sementara Uda Ramli ke Pasar Atas. Pak Chandra menunjukkan foto-foto hasil bidikan Harun.

“ Beberapa buah bapak kirim ke lomba foto amatir. Pas hari terakhir pengiriman. Semoga menang, ya Harun. Dua minggu lagi pengumumannya. Ini bapak kasih kamu HP.. Bukan HP mahal, tapi bisa untuk komunikasi. Simpan baik-baik, tunggu kabar dari bapak tentang hasil lomba itu. Kalau menang bapak yakin kamu menang! - kita ke Padang untuk menerima sertifikat dan hadiah.”

“ Kau harus punya mimpi,nak! Mimpi itulah cita-citamu. Raihlah...ujudkan mimpimu. “ Kata emak ketika mendengar penjelasan Harun sepulang dari dari Bukit Tinggi. Harun tersenyum melihat sekelilingnya.

“ Un dah punya objek foto, mak! Tu ...lampu togok, paga-paga emak, emak yang lagi meniup semprong, kerupuk ubi perancis yang besar itu, batang kelapa condong di belakang rumah ...ah ....banyak lagi, mak!

Harun punya mimpi dan mimpi itu harus diujudkannya dengan benar, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang.

Tulisan ini dilombakan di Lomba Tulisan Inspirasi 2014


Mimpi Harun Mimpi Harun Reviewed by Rival Ardiles on 08.52.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.