Selasa, 06 Mei 2014

Momentum of "Aha"

Oleh : Okta Hebat

Yup yuk belajar menciptakan momentum of “Aha..!! Coba
bayangkan.. ada seorang anak kecil sedang duduk dengan lirikan mata keatas
dan memegang pensil yang diketuk-ketukan di dagu. "sudah dibayangkan???
sedang apa ya kiranya anak kecil tersebut??" tentunya kita berfikir anak itu
sedang mengingat-ingat atau mencari sesuatu didalam fikiranya. hemn.. coba
kalau kartun, pasti diatas kepalanya ditambahin dengan gambar lampu yang
sedang menyala yang mendandakan ia sedang berfikir. Sudah gitu lampunya
nyala lagi, “Cling..!!!” terang benderang. Trus dari mulutnya keluar
“Aha..!!”

Momentum of aha adalah sebuah momentum yang sangat berharga dimana sebuah
ide brilliant tiba-tiba saja muncul tanpa diminta. Ide itu mengalir begitu
saja tak kenal dimana dan kapan waktunya. Ide apapun itu, entah itu ide
untuk bisnis, menulis atau menciptakan sesuatu yang baru. Maka sudah
seharusnya kita bisa memanfaatkan momentum yang datangnya tak dapat diminta
dan tak dapat pula dipaksa untuk hadir. Kayak jelangkung aja yah.. datang
tak dijemput pulang tak diantar. Hehe..

Momentum of aha adalah sebuah kiasan yang menggambarkan manakala inspirasi
itu datang. Bagi sebagian orang, khususnya yang berkecipung dalam dunia
kreatifitas seperti penulis yang dituntut untuk menghasilkan sebuah karya
yang spektakuller, maka inspirasi menjadi sangat penting bahkan harga mati.
Inspirasi menjadi berharga dan mahal karena denganya mampu menunjukan
ke-eksisan dirinya dalam menggeluti bidangnya tersebut.

Karena inpirasi adalah barang langka, maka sudah seharusnya kita mampu
memanfaatkan moment itu agar ia tidakk berlalu begitu saja. artinya, saat
kata aha tiba-tiba ada, maka ikatlah ia dan manfaatkan percikan-percikan ide
brilliant untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Jadi ingat kata Ali bi
Abi Thalib yang menyebutkan bahwa “Ikatlah ilmu dengan menulis”

Kenapa harus menulis?? Karena dengan tulisanlah yang dapat mengabadikan
momentum of aha tersebut. Ada sebuah kisah nih, tentang manfaat mengikat
ilmu dengan menulis. Begini ceritanya, bayangkan seseorang yang yang sedang
mencari kambing-kambingnya yang sedang jalan-jalan cari makan, setelah ia
mencari kesana kemari akhirnya ia menemukan satu kambingnya dari
kambing-kambingnya yang lainya. Satu ia dapatkan, tapi setelah kambing itu
didapatkan, ia biarkan begitu saja tanpa mengikatnya dipohon. Selanjutnya ia
sibuk mencari kambingnya yang lainya, singkat cerita ia dapat menemukan
kambingnya kedua, ketiga, keempat dan seterusnya namun anehnya semua kambing
yang ia beruasaha dapatkan tidak ia ikat di bawah pohon. Jadi ketemu,
kemudian sibuk mencari kambing yang lainya. Pertanyaanya “Berapa jumlah
kambing yang berhasil ia tangkap?? Berapa hayo??” yup tepat sekali,
jawabanya adalah kosong, alias tak ada satu kambing pun yang berhasil ia
tangkap, karena saat ia berhasil mendapatkan satu ia lupa untuk
mengingatnya, maka ia akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Begitu pula dengan inspirasi, maka saat kata aha telah berhasil kau dapatkan
maka bersegeralah dengan menginkatnya dengan tulisan. Sepintar-pintarnya
orang ia akan lupa jika tidak mengingatnya dengan tulisan. Menulislah maka
kau akan hidup. Saat memori otak tak mampu lagi memutar apa yang disimpan
maka dengan menulis ia mampu kembali menghadirkan sesuatu yang terlupa.
Menulis menjadi penting dan bermanfaat manakala kau meyakininya.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” Pramoedya Ananta Toer

Ini menunjukan sebuah bukti bahwa menulis adalah sebuah upaya positif untuk
meninggalkan jejak kebaikan bagi masa yang akan datang. Tentunya dengan
tulisan yang positif juga yang mampu membuka mata dan mata hati kita dan
dapat memberikan inspirasi bagi orang-orang yang membacanya. Menulis adalah
pekerjaan yang mulia, saat dimana kata tak mampu terungkap dan mulut diam
membisu tak berdaya maka dengan tulisan ia mampu mewakili semuanya. Menjadi
hikmah yang tak bernada namun membawa kebermanfaatan yang mendalam.
“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu
cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di
mana.” Seno Gumira.

Pada akhinya menulis adalah karya nyata untuk mengikat inpirasi, inspirasi
adalah cahaya yang mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat manakala ia
aplikasikan dalam sebuah tindakan yang positif. Seperti icon inspirasi yaitu
lampu yang menyala, maka ia adalah cahaya bagi sebuah ide yang seharusnya
tak dilewatkan begitu saja. mari bersama belajar memanfaatkan momentum of
Aha hingga ia berkilau terang benderang.

Tulisan ini dilombakan di Lomba Tulisan Inspirasi 2014

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon