Sepercik Hikmah dari Hati Penuh Cinta

Oleh : Anggi Widya Putri


Kisah ini bermula dari sebuah negeri, dimana penduduknya adalah orang-orang yang dirahmati Allah. Di dalam negeri yang damai itu, adalah sebuah hutan yang dihuni oleh seekor kera dan sebuah pohon yang tinggi dan kokoh. Mereka berdua mempunyai kisah yang berbeda untuk menemukan Allah.

Kisah pertama dimulai dari seekor kera yang buruk rupa. Orang-orang yang tinggal di negeri itu selalu menjauhinya karena dianggap sebagai sesuatu yang tak layak dipandang, apalagi seekor makhluk yang mempunyai hak untuk hidup. Kera itu pun menjadi makhluk yang berhati keras. Ia merasa bahwa orang-orang tak pernah mempedulikannya. Hingga akhirnya dia menjadi makhluk yang membenci lingkungannya, apalagi manusia. Dia menganggap manusia bahkan lebih buruk daripada dirinya karena perlakuan yang didapatkannya sebagai makhluk yang tak sempurna selalu menjadi bahan cemoohan manusia.

Kisah kedua datang dari sebuah pohon yang besar dan kokoh. Dari dia masih berbentuk pohon yang kecil, orang-orang di negeri itu selalu merawatnya dengan baik. Memberikan pupuk, menyiraminya dengan air yang cukup, dan menjaganya dari hama. Akhirnya pohon kecil itu pun tumbuh menjadi pohon yang subur, kuat, kokoh, dan selalu menghasilkan buah-buahan yang manis. Pohon ini sangat berterima kasih kepada manusia bahwa mereka semua telah mendidiknya menjadi makhluk yang mempunyai arti.

Kera dan pohon sama-sama hidup dan dibesarkan ditempat yang sama. Lingkungan yang sama, udara dan air yang sama, namun dengan cara dan hasil yang berbeda. Adalah suatu ketika Allah menempatkan mereka pada suatu keadaan. Yang mana keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi titik balik dalam kehidupan mereka.

Pohon yang besar dan kokoh itu selalu penuh dengan rasa syukur. Dia selalu berterima kasih kepada Allah atas segala rezeki yang diberikanNya lewat tangan-tangan manusia yang baik di negeri itu. Pohon itu merupakan pohon yang luar biasa, karena selain dia dapat menghasilkan buah yang manis, ia pun dalam kondisi mempunyai ketahanan fisik yang luar biasa, yakni mampu menyimpan cadangan air dalam waktu yang lama.

Ketika hujan turun setiap hari, ia bersyukur. Bagaimana tidak? Ketika air melimpah ruah, ia merasakan dirinya luar biasa, dan saat-saat seperti itulah pohon itu terkadang memproses buah yang manis dalam dirinya untuk dia berikan kepada manusia-manusia yang baik sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikannya rejeki berupa hujan. Tak lupa, ia juga selalu menjatuhkan buahnya untuk si kera yang buruk rupa itu, jika sesekali kera itu berteduh dibawah dirinya. Hal itu dia anggap sebagai bentuk sedekah dan kemurahan hati yang diajarkan manusia-manusia itu kepadanya.

Lain halnya dengan si kera, ketika hujan turun setiap hari, ia berkeluh kesah. Karena ia tidak bisa berkelana mencari makan dari satu pohon ke pohon lainnya karena genggaman tangannya terlalu licin ketika hujan turun lebat. Ia takut sekali terjatuh. Akhirnya ia menjadi pengumpat. Dan merasa bahwa
Allah tak menyayangi dirinya ketika terus berulang kali hujan turun dengan derasnya.

Suatu ketika, hujan mulai jarang turun. Si pohon mulai merasa dirinya biasa saja. Mulai terpecik rasa sombong dihatinya. “ah, hujan atau tidak, sama saja untukku. Untung saja aku masih bisa menyimpan cadangan air yang banyak. Akarku juga kokoh, jadi walaupun kemarau, aku tidak akan kekurangan makanan.” Begitu pikirnya. Lain halnya dengan si kera, ketika hujan sudah mulai jarang turun, ia bersemangat mencari makan. Ia lompat dari satu pohon ke pohon lainnya dan berharap mendapatkan sesuatu yang bisa ia makan. Suatu hari, kera itu menolong seorang manusia, mengambilkan sebuah pisang milik seorang bapak tua yang terjatuh dari gerobaknya. Lalu sebagai rasa terima kasih, kera itu mendapatkan sepuluh pisang dari pak tua yang ditolongnya. Mulai saat itu, kera buruk rupa itu gemar melakukan kebaikan. “wah, kalau aku melakukan satu kebaikan, maka Allah memberikanku sepuluh kebaikan. Kalau begitu aku akan melakukan kebaikan yang banyak, agar Allah selalu melimpahkan kebaikannya kepadaku.” Begitu pikirnya.

Suatu hari, si pohon mulai merasa kekeringan. Namun ia enggan meminta kepada Allah untuk menurunkan hujan. “Kalau saja Allah mau, pasti Dia akan menurunkan hujan tanpa aku minta.” Maka jadilah ia pohon yang sombong. Ia merasa masih bisa menghidupi dirinya sendiri meskipun hujan tak kunjung datang. Lalu datanglah si kera berteduh dibawah si pohon. Lalu kera itu bertanya kepada pohon. 

“Mengapa kamu tidak menjatuhkan buahmu yang manis itu kepadaku?”
“Sudah lama aku tidak berbuah.”
“Mengapa begitu? Bukankan dulu engkau adalah pohon penebar kebaikan? Buahmu disukai orang banyak.”
“Ya, itu dulu. Sekarang aku rasa Allah sudah menakdirkanku sebagai pohon yang tak lagi berbuah. Karena Dia sudah lama tak menurunkan hujan.”
“Mengapa kau tak meminta diturunkan hujan? Allah akan memberi kita kebaikan yang banyak jika kita melakukan kebaikan dan banyak bersyukur.”
“Aku masih punya cadangan air yang banyak. Akarku masih bisa menembus ke dalam tanah untuk menghisap makanan. Aku masih kuat.”
“Kalau begitu, mari kita lihat, seberapa lama engkau bertahan. Dan aku akan mengukur diriku seberapa lama aku jatuh cinta kepada Allah karena Dia selalu memberikan kebaikan yang banyak untukku.”

    Hari terus berganti. Si pohon akhirnya menangis karena sudah sebegitu rapuhnya menahan kekeringan yang melanda dirinya. Lalu datanglah si kera menasehatinya.

“Kemarin aku mendengar seorang bapak tua berkata kepada anaknya bahwa Nabi Hud AS berkata kepada kaumnya, ‘wahai kaumku ! mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan diatas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’ Aku dulu berhati keras, namun Allah menyentuh hatiku dengan sepercik hikmah. Aku mungkin saja tak berharga dimata orang lain, namun aku ingin berharga dimata Allah karena menebar kebaikan yang banyak di negeri ini. Dan engkau mungkin saja selalu diperhatikan orang, namun dengannya engkau lengah dan berpaling dari rasa syukurmu yang dahulu menjadi kekuatanmu. Maka kembalilah kepada Allah, maka Allah pun akan mencintaimu.”
   
Si pohon menangis menyesali kesombongannya selama ini dan memohon ampun kepada Allah. Sore itu hujan deras mengguyur negeri yang penuh kedamaian itu.

Allah tidak pernah bosan menunggu kita kembali, hanya saja kita terlalu banyak beralasan, mengeluh dan berputus asa dari rahmatNya, dan membuat Allah sesuai dengan prasangka kita. Padahal Allah menurunkan ujian untuk membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, namun kita selalu lengah menyadarinya. Allah tidak pernah lelah menanti kita kembali, sejauh apapun kita melangkah, Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hanya saja, sejauh apapun kita melangkah, sejauh itu pula kita pergi meninggalkanNya.


Sepercik Hikmah dari Hati Penuh Cinta Sepercik Hikmah dari Hati Penuh Cinta Reviewed by Rival Ardiles on 09.00.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)

Facebook

Bangun Inspirasi. Diberdayakan oleh Blogger.