Minggu, 01 Juni 2014

The great Grandma

Oleh : Eka Sutarmi

 
Nenekku memang bukan satu-satunya orang yang menginspirasi di dalam keluarga saya, tanpa terkecuali Ibu, Bapak, Kakek, Paman, Bibi, dan Adhik pun juga menjadi tokoh inspirator dalam hidup saya. Merekalah orang-orang hebat yang paling berperan dalam hidup saya, cinta sejati yang ada dalam diri saya. Tulisan yang bertema “Nenekku Inspirasiku” muncul di benak saya ketika saya ingat dengan cerita perjalan hidup nenek saya yang berliku-liku, tetapi punya keinginan kuat untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Nenek memang orang yang tidak berpendidikan, bahkan ia tidak pernah merasakan duduk bangku sekolah Tetapi dari pengalaman hidupnya itu, ia malah memiliki tekat yang kuat agar anak, cucunya bisa sekolah tinggi dan bisa menjadi orang yang sukses.

    Nenek saya adalah sosok yang ulet, pemberani, dan bekerja keras. Ia lahir pada tanggal 09 September 1959 di tengah-tengah keluarga yang bisa dibilang banyak, ia anak ketiga dari sebelas bersaudara. Dibilang bekerja keras, karena pada saat masih anak-anak, sekitar usia 7 tahun ia sudah di percaya oleh orang tuanya untuk mengurusi adik-adiknya, memasak, menggembala kambing, dan juga merawat simbah-nya yang sudah tua. Nenek saya harus bisa membagi waktunya untuk menjalankan tugas-tugasnya tersebut. Semakin ia bertambah besar, tanggung jawab yang diberikan pun juga semakin besar. Adhiknya yang semakin tumbuh besar, dan tak ketinggalan yang bayi juga makin bertambah….yaa maklum kata simbah saya jaman dulu belum ada KB. Untuk menjalani kehidupan pada saat itu tidak semudah yang kita alami saat ini, banyak yang serba instan, Untuk makan saja satu keluarga saja nenek saya harus menumbuk singkong sebanyak satu sampai dua sak perhari. Nasi putih pada saat itu masih jarang, jadi yang dijadikan makan pokok yaitu nasi thiwul (nasi yang terbuat dari singkong). Selain itu, ia juga harus membantu ibunya untuk menjual barang dagangan, seperti kelapa, keropak, kunyit, jahe ke pasar. Perjalanan jauh dan beban berat yang di gendongnya seringkali membuatnya mengeluh, tapi apa boleh buat…mau tidak mau, kuat tidak kuat…ya harus kuat. Perjalanan jauh itu tidak ditempuh dengan kendaraan, ia harus jalan kaki…berangkat malam, pulang malam. Yang bikin saya terharu saat di kasih tahu ceritanya yaitu saat ia pulang dari pasar dan ia sangat ingin membeli buah nangka yang di dasarkan di pinggir jalan, tapi uangnya tidak mencukupi untuk membeli buah nagka tersebut, sehingga untuk membayar rasa inginya untuk menikmati buah nangka itu, nenek saya mengambil sisa buah nangka (dami) yang sudah dibuang. Makanya sampai saat ini nenek saya itu mewanti-wanti untuk tidak menyisakan makanan apapun, karena ya…mengingat jaman dulu, untuk beli jajan saja berpikirnya bisa lima sampai seratus kali.

    Lain cerita, suatu hari nenek saya itu diberikan saba’ dan grip (alat tulis-menulis jaman dahulu) oleh seseorang untuk peralatan sekolah, seingat saya seseorang yang memberinya alat itu namanya Ibu Masitorini. Uniknya alat tulis menulis itu sekali pakai, jadi jika ia sudah menuliskan satu lembar
penuh, tidak bisa berganti dengan lembar yang baru lagi melainkan harus menghapusnya dan menulis di lembar yang sama. Karena menurut ceritanya saba’ itu hanya berupa satu lembar saja, dan bisa dipakai secara berulang-ulang. Istilahnya tulis-hapus, tulis lagi-hapus lagi, dan seterusnya. Kalau saat ini masih begitu ATM- nya, bisa-bisa bikin kepala langsung botak ya? He e e. Ia sangat senang sekali pada saat itu, ia bisa merasakan bagaimana rasanya belajar. Tapi setelah satu minggu ia bersekolah, ketahuan sama ayahnya, Mbah Buyut Parmin (alm). Tidak berpikir panjang, Saba’ dan gripnya langsung di pecah olenya, karena mulai dari awal memang ayahnya tidak setuju kalau ada anak nya bersekolah…dari anaknya yang berjumlah sebelas itu, ternyata semuanya tidak ada yang di sekolahkan. Di usia yang kurang dari 10 tahun, nenek saya sudah disuruh menikah olah kedua orang tuanya, ia di jodohkan dengan seorang laki-laki ganteng, yang bernama Kakek Paijo. Beda umur mereka sangatlah jauh. Mau saya ceritakan kenapa menikah dibawah umur dibolehkan saat itu, saya lupa bagaimana itu bisa terjadi. Yang jelas mereka berdua telah resmi menjadi suami-istri.

    Pernikahan mereka berdua ternyata tidak sia-sia, kerja keras mereka berdua untuk mencari modal buat rumah tangga berhasil. Mereka akhirnya berhasil menyekolahkan anak pertamanya hingga ke perguruan tinggi. Usahanya tersebut tidak semudah yang saya bayangakan, ada cerita yang lebih menarik dan mengaharukan dibalik kesuksesanya itu. Benar-benar sebuah pengorbanan yang luar biasa untuk bisa menyekolahkan anak nya pada saat itu, Sangat jarang orang yang peduli pendidikan di zaman tersebut, karena sebagaian besar orang lebih memilih untuk mempergunakan uangnya untuk yang lain daripada untuk pendidikan. Tapi hal ini sangat berbeda dengan pola pikir nenek saya, ia memiliki prinsip bahwa dengan sekolah mungkin akan membuat hidupnya menjadi lebih mudah, tidak seperti yang nenek alami saat itu.    

    Anak pertama dari pasangan Paijo-Katijah ini namanya kanijan, ia adalah paman saya. Menurut ceritanya, ia adalah sosok orang yang penurut kepada orang tuanya. Dari masih bayi hingga anak-anak ia tidak pernah dengan yang namanya minum ASI, atau susu instan, ya.. karena keterbatasan ekonomi, serta gizi, sampai-sampai ASI nya tidak keluar dan tidak mampu untuk beli susu instan., untuk mengganti gizinya ia hanya di kasih minum air tajin (air rebusan beras) oleh nenek saya. Yang membikin saya terharu, pada saat masuk sekolah dasar paman saya itu tubuhnya paling kecil sendiri, dan baju yang dipakai kebesaran. Teman-temanya sering melepas celanannya dan diejek. Ia sempat putus asa dan malu untuk kembali bersekolah. Semangat yang tetap mengalir dari nenek saya terus tercurahkan kepada sang anak tercinta itu agar ia tetap semangat bersekolah. Memasuki sekolah menengah pertama, ia juga patah semangat karena banyak teman-temanya yang masuk di sekolah negeri, tapi ia tidak…ia diterima di salah satu sekolah swasta. Nenek saya masih tetap memberinya semangat agar ia tidak lagi patah semangat, sekolah swasta tidak apa-apa, yang penting sungguh-sungguh. Setiap hari nenek saya harus mengantarkan ke sekolah, mereka harus berangkat jam satu malam agar paginya ia sudah sampai di sekolah. Itu dengan sabar dilakukan oleh nenek saya. Yang juga membikin saya heran saat di kasih cerita oleh nenek saya itu, pernah suatu saat kakek saya menyuruh paman saya untuk berhenti sekolah, entah alasanya apa saya kurang tahu. Tapi hal itu juga tidak menyurutkan niat nenek saya untuk tetap berusaha menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Dan akhirnya dengan perjuangan dan do’a dari seorang ibu, ia berhasil lulus kuliah dan mendapat pekerjaan yang mapan, meskipun hanya sebagai guru SMA.



2 komentar

Silakan komentar dengan baik dan bijak. Sesuai dengan artikel yang dibaca :)
EmoticonEmoticon